
Presiden AS Donald Trump (kiri) berbicara dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di sela-sela Pertemuan Puncak NATO di Brussels, Belgia, Rabu (11/7/2018).
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tak gentar menanggapi "gertakan" Presiden AS Donald Trump terkait pengenaan tarif atas barang impor dari Turki.
Erdogan menyatakan hal itu pada Kongres Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), Sabtu (18/8/2018). "Kami tak akan menyerah kepada mereka yang menampilkan diri sebagai mitra strategis dan pada saat yang sama berusaha menjadikan kami target strategis," kata Erdogan.
Turki dan AS, dua negara anggota NATO, awalnya berselisih terkait penahanan pendeta asal AS, Andrew Brunson, sejak 2016 karena diduga punya hubungan dengan kelompok Fethullah Gullen. Oleh pemerintahan Erdogan, Gullen dituduh mendalangi kudeta gagal di tahun itu. Jumat (17/8) lalu, pengadilan menolak upaya banding yang diajukan Brunson.
Kasus ini makin mempercepat memburuknya hubungan Turki dan AS. Namun, Turki bergeming dengan keputusannya menahan Brunson meskipun AS menganggap penahanan itu tidak didasarkan pada bukti yang kredibel. "Beberapa orang mengancam kami dengan ekonomi, sanksi, nilai tukar mata uang asing, suku bunga, dan inflasi. Kami tahu kedengkian Anda dan kami akan menentang Anda," kata Erdogan.
Sehari sebelumnya, Presiden Trump mengatakan, Turki membuat tuduhan palsu bahwa Brunson adalah mata-mata. "Dia bukan mata-mata. Mereka seharusnya mengembalikannya sejak lama. Untuk itu, kami tidak hanya akan duduk diam," katanya.
Nilai tukar mata uang Turki, lira, terus melorot setelah kedua negara menaikkan tarif barang impor satu sama lain. Dampak dari tarif baru dan menurunnya nilai lira itu meluas hingga ke negara berkembang lain seperti Indonesia, yang memicu kekhawatiran krisis global.
Di depan Kongres AKP, Erdogan menegaskan, Turki akan melanjutkan dan memperluas operasi militer lintas batasnya untuk berperang melawan Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG). Turki mengecap YPG sebagai kelompok teroris. Di Suriah, YPG membentuk Pasukan Demokrat Suriah, aliansi Kurdi-Arab yang menerima dukungan dari koalisi pimpinan AS saat bertempur dengan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS).
Erdogan tahu, ancaman sanksi AS tidak akan berpengaruh banyak terhadap perekonomian Turki. Erdogan tidak peduli kepada Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin yang akan memberikan sanksi tambahan jika Brunson tidak dibebaskan.
Upaya Erdogan "menormalkan" nilai mata uangnya mendapat bantuan dari Qatar yang berjanji akan berinvestasi sekitar 15 miliar dollar AS. Sampai Sabtu lalu nilai tukar lira masih tertekan sekitar 6 lira per dollar AS, turun sekitar 40 persen dibandingkan dengan awal tahun ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar