ARSIP PRIBADI

DR SAMSURIDJAL DJAUZI

Kakak perempuan saya mengalami kecelakaan, tulang rahangnya patah serta terdapat luka-luka di mukanya. Dia mengajak saya menemaninya berobat ke Bangkok. Saya heran kenapa ke Bangkok. Ternyata ada temannya yang baru operasi plastik di Bangkok dan pengalaman berobat di sana berkesan pada kakak saya.

Kami mengirim data yang ada di Indonesia ke rumah sakit di Bangkok, berupa data pemeriksaan dokter, laboratorium, dan foto rontgen. Rumah sakit di Bangkok memberikan tanggal konsultasi dengan dokter bedah serta merencanakan tanggal operasi sekaligus. Rumah sakit itu juga menyampaikan perkiraan biaya serta menyediakan wisma yang tak jauh dari rumah sakit jika diperlukan untuk penginapan keluarga.

Kami sampai di Bangkok hari Minggu dan langsung ke rumah sakit. Setelah pengurusan administrasi serta pemeriksaan pendahuluan oleh dokter jaga, kakak saya dikirim ke ruang perawatan yang cukup nyaman. Ada sofa untuk keluarga yang menunggu, juga microwave pemanas makanan. Kantin rumah sakit pun menyediakan menu cukup lengkap.

Rumah sakit menyediakan tenaga penerjemah. Tenaga penerjemah di rumah sakit ini merupakan tenaga kontrak, bukan pegawai rumah sakit. Umumnya mereka mahasiswa akademi bahasa asing. Hampir semua bahasa ada penerjemahnya. Jika ada keperluan perpanjangan visa, ada layanan itu pula di dekat lobi rumah sakit sehingga keluarga tak perlu pergi ke imigrasi. Kesan saya, layanan non-medisnya amat memuaskan. Bagaimana layanan medisnya?

Satu jam setelah masuk kamar, dokter spesialis bedah datang memeriksa pasien serta membaca semua data yang sudah ada. Data medis dari Indonesia sudah lengkap sehingga hari Selasa direncanakan operasi. Setelah spesialis bedah visit, dokter spesialis penyakit dalam dan anestesi juga visit untuk menilai kelayakan operasi. Baik dokter spesialis bedah, penyakit dalam, maupun anestesi menyediakan waktu cukup untuk menjelaskan apa yang akan dilakukan pada waktu pembedahan nanti, berapa lama akan dirawat di ruang perawatan intensif sebelum pindah ke kamar biasa, serta perkiraan lama tinggal di rumah sakit.

Dokter bedah juga mengirim video operasi rahang yang biasa dilakukan agar keluarga mendapat gambaran apa yang akan dilakukan sehingga lebih mudah memberikan persetujuan tindakan operasi. Alhamdulillah, operasi berjalan baik, kakak saya dirawat lima hari, boleh pulang, dan kontrol kembali satu minggu.

Kami tinggal di wisma rumah sakit yang jauh lebih murah daripada hotel. Saya juga dapat menikmati berwisata di Thailand karena di rumah sakit tersedia biro perjalanan. Biaya yang habis sekitar Rp 100 juta untuk semua, termasuk wisata, relatif murah jika dibandingkan dengan operasi di Indonesia.

Apakah rumah sakit kita di Indonesia juga dapat memberikan layanan medis dan non-medis sebaik di Thailand? Apa hambatan yang dihadapi? Terima kasih atas penjelasan dokter.

N di J
Saya pernah menjadi pemimpin rumah sakit pemerintah dan sedikit banyak mengalami suka-dukanya. Sebenarnya jika dibandingkan dengan Thailand, layanan medis kita lebih kurang sama. Bahkan, ketika tahun 2002 saya membandingkan rumah sakit kanker di Bangkok dan Rumah Sakit Kanker Dharmais di Jakarta, peralatan medis di Jakarta lebih lengkap. Jumlah pasien di Rumah Sakit Kanker Dharmais juga lebih banyak dan beraneka ragam.

Rumah sakit kita (terutama rumah sakit pemerintah) memang masih banyak memberikan perhatian pada layanan medis. Sejak dilaksanakan asuransi nasional tahun 2014, jumlah pasien yang berobat di rumah sakit, terutama rumah sakit tipe C, meningkat tajam. Jumlah pasien rawat jalan yang biasanya sekitar 150 meningkat hampir 400. Jumlah operasi yang biasanya 50 rata-rata menjadi 125. Kita bersyukur semakin banyak pasien dapat ditolong meski mungkin keramahan layanan menurun.

Perawat kamar operasi yang dinas sore, yang seharusnya pulang pukul delapan malam, terpaksa pulang pukul 10 malam sehingga saat pulang tidak mendapat kendaraan umum. Kamar tunggu rawat jalan rumah sakit penuh. Masa tunggu pengambilan obat di farmasi dapat mencapai 5-6 jam.

Saya sering bertemu dengan pasien yang datang pukul delapan pagi baru pulang pukul tujuh malam. Salah satu tugas utama pemimpin rumah sakit sekarang adalah mengatur keuangan agar obat dan alat kedokteran mencukupi. Pada umumnya, 80 persen pasien rumah sakit pemerintah adalah peserta BPJS. Jika pembayaran dari BPJS terlambat, pimpinan rumah sakit harus mencari jalan keluar agar obat tak habis, honorarium dokter dan tenaga kesehatan dapat terbayar pada waktunya.

Sebenarnya yang diinginkan pemerintah adalah layanan puskesmas sebagai ujung tombak layanan kesehatan kuat sehingga pasien yang dikirim ke rumah sakit tersaring dengan baik. Diharapkan layanan kesehatan primer dapat menyelesaikan masalah kesehatan 80 persen kasus yang ada, hanya sekitar 20 persen yang dikirim ke rumah sakit. Untuk itu, pemerintah telah memperkuat puskesmas dengan melengkapi tenaga dan peralatan yang diperlukan.

Namun, masyarakat juga perlu membantu dengan mengubah pemikiran bahwa layanan kesehatan primer kurang dapat diandalkan sehingga meminta dirujuk ke rumah sakit.

Jika kita membandingkan layanan rumah sakit 10 tahun yang lalu dengan sekarang, terasa ada perubahan. Kepentingan dan keamanan pasien mendapat perhatian. Berbagai cara diusahakan agar pasien cepat ditolong. Komunikasi petugas kesehatan dengan pasien dan keluarga terus ditingkatkan.

Dewasa ini tenaga kesehatan bekerja di rumah sakit sesuai standar dan prosedur yang telah disepakati. Dokter tak dapat memilih obat sesuai kehendaknya, tetapi patuh pada standar pelayanan yang disusun bersama. Di rumah sakit ada komite medik yang bertugas menjaga mutu layanan medik rumah sakit.

Mungkinkah rumah sakit kita mengembangkan layanan non-medik yang membuat pasien nyaman? Sangat mungkin. Beberapa rumah sakit telah menyediakan ruang tunggu yang nyaman. Juga tersedia air minum, bahkan juga ada rumah sakit yang menyediakan kue-kue untuk pasiennya. Jika lama menunggu layanan farmasi, ada rumah sakit yang menyediakan layanan mengantar obat ke rumah pasien. Pasien penyakit kronik diingatkan agar kontrol sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Layanan parkir sudah hampir sama dengan di pertokoan. Layanan non-medis memang merupakan layanan yang tak kalah penting, bahkan pasien dan keluarga hanya dapat merasakan langsung layanan non-medis. Mutu layanan medis lebih banyak diketahui oleh para profesional.