Tingkat kesejahteraan yang membaik, termasuk kesehatan dan pendidikan, membawa dampak bertambahnya usia harapan hidup. Konsekuensi keadaan ini adalah bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia (lansia).

Para penghuni Wisma Lansia Harapan Asri, Banyumanik, Kota Semarang, Jawa Tengah, sedang beraktivitas senam lansia, Jumat (9/8/2019). Wisma lansia tersebut dihuni 68 orang yang berasal dari Semarang dan sekitarnya maupun luar kota seperti Jakarta, Surabaya, dan Palembang.
Menurut Survei Penduduk Antarsensus 2015-2045, jumlah penduduk berusia 65 tahun ke atas saat ini adalah 6,51 persen dari 266,911 juta orang. Proporsi jumlah penduduk lansia akan bertambah terus hingga mendekati 18 persen atau sekitar 57 juta orang pada tahun 2045.
Saat ini pembicaraan publik lebih banyak berfokus pada memanfaatkan bonus demografi, dengan jumlah penduduk usia produktif, berusia 15-64 tahun, lebih banyak daripada yang berusia tidak produktif. Penduduk usia produktif akan menyumbang pada kesejahteraan dan daya saing bangsa jika pendidikan, kesehatan, dan gizinya baik sehingga produktivitasnya tinggi. Banyak negara melompat menjadi negara kaya karena berhasil memanfaatkan bonus demografi.
Belajar dari sejumlah negara yang penduduknya menua, seperti Jepang dan China, penduduk lansia menjadi perhatian dalam kebijakan kependudukan. Selain membujuk penduduk usia muda memiliki anak, pemerintah menyediakan fasilitas kesehatan dan layanan umum serta membantu warga lansia terus produktif karena alasan sosial, budaya, dan ekonomi.
Di Indonesia, masyarakat terbiasa melihat penduduk lansia tetap produktif. Sebagian karena memang tak ingin berpangku tangan, tetapi sebagian yang lain karena tidak memiliki banyak pilihan, kecuali terus bekerja karena tidak memiliki tabungan atau aset yang dapat menjamin hari tua.

Warga lansia berbelanja di Pasar Ngancar, Kecamatan Banyudono, Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (18/8/2019). Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi yang memiliki warga lansia terbanyak di Nusantara.
Mengantisipasi jumlah warga lansia yang bertambah dan berkurangnya penduduk usia produktif, persiapan harus dilakukan sejak sekarang, dalam kerangka pembangunan manusia oleh Presiden Joko Widodo dalam kabinet jilid duanya. Apalagi, Presiden menegaskan tidak boleh satu orang pun tertinggal dalam kemajuan Indonesia. Ini peluang sekaligus tantangan mengingat penduduk lansia berpendidikan sekolah menengah ke bawah dan kita memasuki era revolusi 4.0.
Agar tidak menjadi beban kelak, kebutuhan penduduk lansia perlu disiapkan dari sekarang, seperti jaminan sosial, jaminan layanan kesehatan, transportasi, dan fasilitas umum, hingga penyediaan tempat perawatan warga lansia. Pelatihan keterampilan yang menjadi program kerja pemerintah harus memasukkan juga skema bagi warga lansia yang tetap ingin berkarya, misalnya dengan membantu menjadi wirausaha.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar