KOMPAS/ELSA EMIRIA LEBA

Wakil Presiden Jusuf Kalla secara resmi meluncurkan Indonesian AID, atau disingkat Indo AID, di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Jumat (18/10/2019). Turut hadir dalam peluncuran tersebut Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Bambang Brodjonegoro.

Tidak ada negara yang dapat hidup sendirian. Setiap negara saling membutuhkan satu sama lain sehingga kerja sama perlu terus dibangun.

Pentingnya kerja sama antarnegara untuk mewujudkan kesejahteraan bersama ditegaskan antara lain oleh tokoh terkemuka liberalisme Ludwig von Mises (1881-1973). Dalam Liberalism: The Classical Tradition (edisi terjemahan: Menemukan Kembali Liberalisme) disebutkan olehnya bahwa perdamaian adalah induk dari segalanya.

Argumen ini disampaikan untuk melawan kubu pendukung perang yang meminjam pemikiran filsuf Yunani bahwa perang adalah induk segalanya dan perdamaian menyebabkan kemunduran. Bagi mereka, peperangan menghidupkan segenap potensi, pemikiran segar, dan kreativitas sehingga tercapai kemajuan.

Namun, menurut Von Mises, justru perdamaian, bukan perang, yang menjadi induk segalanya atau penghasil kemajuan. Perang hanya menghancurkan, tak menciptakan. Satu-satunya yang membuat manusia maju adalah kerja sama sosial—sesuatu yang hanya terwujud dalam kondisi damai.

Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla (tengah) menjawab pertanyaan media dalam konferensi pers seusai peluncuran Indonesian AID atau INDOAID di Jakarta, Jumat (18/10/2019).

Semangat perdamaian dan kerja sama itu coba dipegang teguh dalam tata hubungan internasional. Dalam sejumlah pertemuan ASEAN, pejabat negara Asia Tenggara kerap menyebut kondisi damai di kawasan telah memungkinkan mereka membangun, saling berdagang, dan menjalin kerja sama sehingga perekonomian maju serta rakyat sejahtera.

Kerja sama multilateral di berbagai kawasan maupun tingkat global membuktikan kebenaran yang disampaikan Von Mises. Lewat perdamaian dan kerja sama lintas negara, tercipta perdagangan yang lancar, penemuan baru, serta terobosan di berbagai bidang yang menyejahterakan.

Dalam konteks meningkatkan perdamaian dan kerja sama internasional itulah, Indonesia mendirikan Lembaga Dana Kerja Sama Pembangunan Internasional Indonesia atau Indonesian Aid. Diresmikan Jumat pekan lalu oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, Indonesian Aid diarahkan untuk memperkuat diplomasi RI.

Sebelum ini, pemberian bantuan internasional oleh Indonesia dilakukan setiap kementerian atau lembaga sehingga data kurang akurat dan program tak tepat sasaran.

Lembaga di bawah naungan Kementerian Keuangan itu akan membuat penyaluran bantuan internasional lebih terkoordinasi, terarah, dan cepat. Sebelum ini, pemberian bantuan internasional oleh Indonesia dilakukan setiap kementerian atau lembaga sehingga data kurang akurat dan program tak tepat sasaran.

Seperti diberitakan harian ini Selasa (22/10/2019), ada tujuh negara di Pasifik Selatan dan Asia Tenggara yang akan dan sedang menerima bantuan RI, antara lain Fiji dan Nauru. Indonesia, misalnya, bekerja sama dengan Fiji untuk membangun sekolah yang rusak akibat badai. Indonesia, menurut Kalla, memang sudah seharusnya membantu negara lain.

Baca juga : Panggung Depan Politik