Cari Blog Ini

Bidvertiser

Jumat, 29 November 2019

CATATAN TIMUR TENGAH: Ambruknya Bangunan Strategi Bangsa Arab (MUSTHAFA ABD RAHMAN)


Musthafa Abd Rahman, wartawan senior Kompas

Sekjen Liga Arab Ahmed Aboul Gheith dalam artikelnya di harian Asharq Al Awsat edisi 6 Februari 2018 melukiskan, dunia Arab kini sedang mengalami krisis besar, baik politik, ekonomi, sosial, hingga budaya, yang tidak mungkin dapat diatasi dalam waktu dekat atau menengah.

Menurut Aboul Gheith, pemerintah dan rakyat negara-negara Arab saat ini yang utama bukan mencari solusi krisis itu, melainkan lebih dibutuhkan melakukan adaptasi dan membangun manajemen krisis atau konflik, karena krisis sudah terlalu akut.

Akutnya krisis di dunia Arab saat ini, lanjut Aboul Gheith, akibat dari ambruknya bangunan geo-strategi bangsa Arab pasca-gerakan musim semi Arab (Arab Spring) pada 2010-2011.

Meletusnya musim semi Arab pada 2010-2011 yang berlanjut hingga 2019, menguak tentang rapuhnya sendi-sendi negara-bangsa di dunia Arab. Meski negara-negara Arab telah meraih kemerdekaan dari kolonial barat pada abad ke-20, namun ternyata para elite penguasa Arab saat itu tidak langsung meletakkan fondasi ideologi negara yang disepakati semua elemen anak bangsa.

AFP/JOSEPH EID

Seorang pemrotes anti-pemerintah berjalan berbungkus bendera nasional di sepanjang jalan Fuad Chehab, dekat Lapangan Martir, di pusat ibu kota Beirut, Lebanon, pada 29 Oktober 2019. Musim semi Arab yang terjadi pada 2010-2011 kembali terjadi pada 2019 dengan meletusnya demonstrasi besar-besaran di Beirut dan Baghdad.

Sebaliknya yang terjadi di dunia Arab saat itu adalah perebutan kekuasaan. Pihak militer sebagai pihak yang paling kuat dalam perimbangan kekuatan antara elemen-elemen anak bangsa, berhasil memenangkan pertarungan dan mengambil alih kekuasaan di banyak negara seperti Mesir, Aljazair, Sudan, Suriah, Irak, Libya, Yaman, dan Mauritania.

Ironisnya, penguasa baru militer bukan meletakkan fondasi ideologi yang disepakati bersama, tetapi sebaliknya berorientasi mempertahankan kekuasaan dengan segala cara. Pada gilirannya, para penguasa militer itu mengontrol negara bukan dengan kontrak sosial yang disepakati semua elemen, tetapi dengan kekuatan senjata.

Hal ini yang membuat sendi negara-negara Arab menjadi sangat rapuh dan bahkan kehilangan identitas, atau mengalami krisis identitas. Hal ini pula yang mengantarkan negara-negara Arab, bak api dalam sekam, karena sesungguhnya menyimpan beban konflik besar yang setiap saat bisa meledak.

Rapuhnya sendi negara-negara Arab itu sangat terlihat ketika meletus musim semi Arab. Rakyat yang menggerakkan revolusi, tidak hanya menuntut mundurnya sebuah pemerintahan, tetapi lebih jauh lagi meminta merombak negara secara keseluruhan dengan menyusun konstitusi baru atau kontrak sosial baru.

REUTERS

Koalisi Arab yang dipimpin Arab Saudi melancarkan serangan udara ke ibu kota Yaman, Sana'a, pada hari Rabu (6/12/2015). Konflik dan krisis terus terjadi di dunia Arab hingga kini.

Proses menuju konstitusi baru itu pun sangat tidak mudah, karena ternyata melalui konflik atau bahkan perang saudara, seperti yang terjadi di Libya, Suriah, dan Yaman.

Aksi unjuk rasa saat ini masih berlanjut pula di Lebanon, Irak, dan Aljazair untuk menuntut perombakan sistem negara secara keseluruhan yang dianggap gagal membawa kemajuan dan kesejahteraan rakyatnya.

Hanya revolusi Tunisia yang berhasil melahirkan sistem demokrasi dan konstitusi baru yang diterima semua elemen rakyat negeri itu. Adapun Mesir kembali kepada kekuasaan militer setelah gagal membangun demokrasi akibat perebutan kekuasaan antara elemen-elemen yang mengobarkan revolusi.

Perang saudara berkepanjangan di Suriah, Libya, dan Yaman, serta aksi unjuk rasa berkelanjutan di Lebanon, Irak, dan Aljazair, mengantarkan terjadinya kekosongan atau ambruknya bangunan strategi di dunia Arab sehingga memudahkan atau membuka jalan bagi intervensi kekuatan asing.

Intervensi Rusia, Turki, Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) ke Suriah selama ini, disebabkan ambruknya bangunan strategi bangsa Arab. Akibat perang saudara berkepanjangan, melemahkan pilar-pilar negara Suriah khususnya dan bangsa Arab pada umumnya.

AFP/OMAR HAJ KADOUR

Warga Suriah, yang terusir akibat pertempuran di kota Khan Sheikhun, wilayah selatan Provinsi Idlib, Suriah, berusaha menikmati minuman teh di sela-sela reruntuhan puing rumah mereka di Khan Sheikhun, 3 Agustus 2019.

Hal yang sama juga terjadi di Libya, dimana Rusia, Perancis, Italia, Mesir, Turki, dan Uni Emirat Arab (UEA) melakukan intervensi di negara Arab yang bertepi ke Laut Tengah itu.

Adapun Yaman, menjadi ajang pertarungan antara Arab Saudi, UEA, dan Iran. Adalah Iran, AS, dan Arab Saudi juga yang ikut bermain dalam aksi unjuk rasa di Irak dan Lebanon saat ini.

Dalam konteks ini, kesalahan bukan terletak pada negara-negara yang melakukan intervensi itu, tetapi terletak pada kelemahan negara-negara Arab itu sendiri yang kondisi sosio-strateginya mengundang atau membuka jalan bagi intervensi asing.

Kondisi sosio-strategi bangsa Arab saat ini, adalah mereka kehilangan identitas dan loyalitas terhadap negara. Maka, secara de facto tidak ada negara di dunia Arab, karena yang ada di dalam negara-negara di dunia Arab saat ini adalah hanyalah kumpulan komunitas-komunitas agama atau mazhab agama, sekte atau etnis yang saling berperang satu sama lain, dan mereka lebih loyal kepada kekuatan asing dari pada ke negaranya sendiri.

Hezbollah di Lebanon lebih loyal kepada Iran dari pada kepada negara Lebanon sendiri. Sejumlah faksi Syiah di Irak lebih loyal kepada Iran dari pada kepada negara Irak.

AFP PHOTO/STR

Sejumlah warga sipil berkumpul di lokasi ledakan di Beirut, Lebanon, 9 Juli 2013. Bom mobil mengguncang kota itu, di kawasan basis kekuatan Hezbollah.

Kelompok Al-Houthi di Yaman bisa juga lebih loyal kepada Iran dari pada kepada negara Yaman. Jenderal Khalifa Haftar di Libya bisa jadi lebih loyal kepada Mesir dan UEA dari pada ke negara Libya sendiri.

Oleh karena itu, dunia Arab saat ini bukan menjadi bagian dari dunia yang kuat dan pengambil inisiatif, tetapi menjadi kekuatan defensif dan arena pertarungan kekuatan regional dan internasional akibat rapuhnya dunia Arab itu sendiri.

Keamanan nasional Arab pun sudah diinjak-injak sendiri oleh elemen dari bangsa Arab itu sendiri dengan mengundang kekuatan asing ke negara mereka atau bahkan mereka adalah loyalis negara asing. Maka, saat ini tidak ada lagi tentang apa yang namanya keamanan nasional Arab.

Ironisnya pula, organisasi regional di tubuh dunia Arab kini praktis lumpuh semua. Dewan Kerjasama Teluk (GCC) yang selama ini dibanggakan sebagai organisasi regional Arab yang paling solid, kini sudah lumpuh pasca-kuartet Arab (Arab Saudi, UEA, Bahrain, dan Mesir) mengisolasi Qatar sejak Juni 2017.

KOMPAS/RYAN RINALDY

Panorama sejumlah gedung pencakar langit di pusat kota Doha, Qatar, dilihat dari udara, Selasa (26/2/2019). Arab Saudi, UEA, Bahrain, dan Mesir mengisolasi Qatar sejak Juni 2017.

Uni Arab Maghrib (AMU) yang didirikan pada tahun 1989, juga lumpuh akibat perbedaan pendapat antara Maroko dan Aljazair soal Sahara Barat.

Maroko mengklaim pemilik Sahara Barat, sedangkan Aljazair mendukung gerakan Polisario (gerakan pembebasan Sahara Barat) yang mengklaim pemilik sah wilayah Sahara Barat. AMU beranggotakan Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, dan Mauritania.

Liga Arab sendiri sudah lama hanya sebuah nama tanpa substansi apa-apa. Pertarungan antara militer dan sipil dalam perebutan kekuasan di Sudan pasca-lengsernya Presiden Omar Hassan al-Bashir akibat aksi unjuk rasa rakyat di Sudan, berhasil dimediasi oleh Uni Afrika, bukan Liga Arab.

Negara-negara Arab sendiri kini sudah kehilangan kepercayaan terhadap Liga Arab.


Kompas, 29 November 2019


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger