Cari Blog Ini

Bidvertiser

Kamis, 10 Oktober 2013

Membumikan APEC 2013 (Tajuk Rencana Kompas)

PERTEMUAN para pemimpin ekonomi forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik 2013 di Bali berakhir Selasa lalu dengan keberhasilan dari sisi substansi.
Keberhasilan dari sisi substansi tentu menjadi harapan bagi Indonesia sebagai penyelenggara. Hal tersebut melengkapi keberhasilan penyelenggaraan APEC yang dihadiri para pemimpin ke-21 anggotanya serta ratusan pemimpin bisnis dunia.

Meskipun bukan merupakan forum yang kesepakatannya mengikat anggota, APEC membuka peluang kerja sama intra-APEC.

Salah satu keberhasilan konkret Indonesia adalah kecerdikan memasukkan platform baru setara dengan kesepakatan daftar produk ramah lingkungan (EG List).

Penerimaan tersebut mewujudkan perjuangan Indonesia agar produk sawit mendapatkan Bea Masuk minimum di antara anggota APEC, seperti dinikmati 54 produk EG List, yaitu maksimum 5 persen. Indonesia gagal memasukkan sawit ke dalam EG List dalam pertemuan APEC 2012 di Vladivostok, Rusia, dan di Bali.

Indonesia mengusulkan platform baru melalui empat kriteria: terkait dengan pembangunan berkelanjutan, pertumbuhan inklusif, pengentasan rakyat dari kemiskinan, dan pembangunan daerah terpencil. Pembahasan berikut akan dilakukan dalam pertemuan APEC 2014 di China.

Penting bagi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia memasukkan sawit sebagai produk ramah lingkungan dan inklusif. Pasar Amerika Serikat, misalnya, tidak terlalu ramah terhadap sawit Indonesia karena menyaingi minyak kedelai yang menjadi produk unggulan mereka.

Melalui forum APEC, Indonesia juga mendapat manfaat dalam menambah kapasitas dan belajar dari pengalaman ekonomi intra-APEC. Melalui forum APEC juga tercapai sejumlah kesepakatan bilateral dengan sesama anggota, antara lain China, Rusia, Peru, dan Jepang.

Hasil lain yang dapat bermanfaat bagi Indonesia adalah kesepakatan mempercepat membangun keterhubungan (konektivitas) secara fisik, kelembagaan, dan antarwarga.

Bagi Indonesia, percepatan keterhubungan seperti pisau bermata dua, tergantung dari bagaimana kita memanfaatkan. Percepatan keterhubungan antarwarga, antara lain untuk tenaga pendidikan. Jangan sampai Indonesia hanya menjadi pasar tenaga pendidikan anggota APEC, yang di satu sisi membuka cakrawala pengetahuan dan keilmuan, tetapi di sisi lain menguras devisa.

Pelajaran penting dari penyelenggaraan APEC di Bali adalah pentingnya kesiapan di dalam negeri sendiri, terutama menentukan target dan strategi mencapainya.

Setelah APEC usai, tugas berikut membumikan kesepakatan tersebut. Jika konektivitas fisik negeri kepulauan dapat dipercepat, daya saing produk dalam negeri akan meningkat, dan ketimpangan kemakmuran wilayah Jawa-Sumatera-Bali dari yang lainnya dapat dipersempit.

Itulah tantangan konkret yang harus segera dicarikan jalan keluar agar Indonesia dapat mengambil manfaat dari pertumbuhan dinamis berkesinambungan di Asia Pasifik.

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000002567224
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger