Ratusan ribu orang tercerabut dari akar kehidupannya, terpaksa mengungsi untuk mencari tempat lebih aman, karena terancam bahaya. Namun, upaya mencari tempat lebih aman tidak selalu mudah, bahkan dihadang beragam risiko. Selama dua pekan terakhir, tiga kecelakaan di Laut Tengah menewaskan lebih dari 300 orang.
Paling tidak 339 orang tewas pada 3 Oktober lalu ketika kapal yang sarat pengungsi Suriah, Palestina, Somalia, dan Eritrea karam ketika mendekati Pulau Lampedusa, Italia. Hari berikutnya, kapal pengungsi tenggelam di perairan Malta. Belum diketahui jumlah korban tewas, sementara dalam kecelakaan di lepas pantai Alexandria, Mesir, Jumat lalu, 12 pengungsi Mesir tewas.
Kisah kecelakaan para pengungsi dalam dua pekan terakhir menggambarkan kekacauan politik dan ekonomi, tidak hanya menciptakan konflik berdarah yang meminta banyak korban jiwa dan kerugian harta benda, tetapi juga gelombang pengungsi. Angka-angka pengungsi Timur Tengah dan Afrika tampak dramatis sejak Musim Semi Arab tahun 2011. Komisi Tinggi Urusan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) mengungkapkan, 13.800 pengungsi Suriah memasuki Lebanon pekan lalu. Dengan demikian, total pengungsi Suriah di Lebanon yang terdaftar di PBB mencapai 792.900.
Jumlah pengungsi diperkirakan terus bertambah jika konflik sosial politik di Suriah sejak tahun 2011 tidak kunjung reda. Sekitar 10.100 warga Suriah sedang mendaftarkan diri ke UNHCR untuk menjadi pengungsi. Kehadiran para pengungsi Suriah yang cenderung meningkat membuat Lebanon, yang belum benar-benar pulih dari trauma perang saudara panjang, menjadi kewalahan. Pemerintah Lebanon telah meminta bantuan dunia untuk membantu para pengungsi Suriah.
Negara Eropa, seperti Italia dan Malta, yang sedang mengalami kesulitan ekonomi, juga menghadapi persoalan pelik dalam menghadapi gelombang pengungsi dari Timur Tengah dan Afrika. UNHCR memperkirakan 32.000 pengungsi, terutama dari Suriah, Eritrea, dan Somalia, mendarat di Italia dan Malta pada tahun 2013 ini. Pemerintah Italia terpaksa memperketat penjagaan pantai dan udara untuk memantau kapal-kapal yang lazimnya membawa pengungsi melampaui kapasitas.
Italia dan negara-negara Eropa lain ingin mencegah masuknya para pengungsi, yang pasti akan memberikan beban sosial, ekonomi, dan keamanan. Namun, upaya pencegahan hanya menambah tragedi kemanusiaan karena kebanyakan pengungsi merupakan orang-orang yang putus harapan. Penyelesaian gelombang pengungsi tidak bisa lain dengan mengakhiri konflik politik secara cepat, tepat, dan adil di negara-negara yang menjadi asal pengungsi.
Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000002661320
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:
Posting Komentar