Kita katakan melegakan karena ini merupakan langkah awal, langkah pertama Mesir untuk hidup secara normal. Situasi tidak normal Mesir terjadi sejak penggulingan presiden pertama lewat pemilu demokratis, Mohammad Mursi, Juli lalu oleh militer dan bentrokan antara militer dan pendukung Mursi yang menelan banyak korban jiwa.
Penggulingan Mursi oleh militer pertama-tama telah menghentikan Revolusi 2011 yang berhasil menyingkirkan pemerintahan otoriter Hosni Mubarak. Karena cita-cita revolusi, antara lain, adalah membangun Mesir yang demokratis, yang plural, yang menjunjung tinggi rule of law, di mana semua warga negara sama di hadapan hukum.
Penggulingan Mursi juga telah melemparkan Mesir ke dalam perang saudara. Di mana-mana terjadi bentrokan antara pendukung Mursi dengan militer dan polisi serta kelompok, baik partai maupun masyarakat anti-Mursi. Korban tewas dan luka jatuh di mana-mana. Ketenteraman dan keamanan hilang dari Mesir. Kehidupan yang harmonis, yang sebelumnya ada dan ditandai sikap saling menghormati antarpemeluk agama yang berbeda, runtuh pula.
Itulah antara lain yang mendorong pemerintah dukungan militer memberlakukan undang-undang darurat dan jam malam. Kebijakan itu dengan sendirinya telah menegaskan bahwa Mesir dalam kondisi yang tidak normal.
Kini undang-undang itu telah dicabut, dua hari lebih cepat dari rencana semula. Sejak semula dinyatakan bahwa undang-undang keadaan darurat akan diberlakukan selama tiga bulan.
Tentu, pencabutan undang-undang yang menegaskan situasi negara dalam keadaan darurat dan pemberlakuan jam malam itu diharapkan menjadi penanda awal pulihnya kehidupan normal Mesir. Meskipun senyatanya Pemerintah Mesir saat ini masih menghadapi berbagai persoalan berat, baik politik, ekonomi, sosial, maupun keamanan. Sebut saja pengadilan atas Mubarak dan orang-orangnya yang belum selesai, perekonomian masih terpuruk, dan tekad Mursi untuk terus melakukan perlawanan selama kekuasaannya tidak dikembalikan.
Pernyataan Mursi itu semestinya menjadi catatan khusus dari Pemerintah Mesir yang menginginkan segera pulihnya keadaan. Banyak langkah yang masih harus dilakukan Pemerintah Mesir untuk membawa "pulang" keamanan dan kenyamanan bagi warganya; tumbuhnya perekonomian, kembalinya rasa saling menghormati di antara warga negara meski berbeda etnis ataupun agama.
Rekonsiliasi nasional harus dilakukan untuk semua itu. Kalau tidak, tidak ada artinya Revolusi 2011 lalu.
Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000003162191
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:
Posting Komentar