Tragedi pada awal pekan di Bintaro, Jakarta Selatan, itu menimbulkan keprihatinan yang mendalam, terutama karena meminta korban jiwa. Paling tidak enam orang tewas, termasuk masinis dan dua teknisi kereta api, sementara puluhan orang cedera. Kerugian material juga tak sedikit. Mobilitas orang dan barang terganggu.
Sorotan atas peristiwa tabrakan bertambah karena tragedi itu berlangsung di tengah meningkatnya animo masyarakat menggunakan kereta api sebagai alat transportasi yang dinilai nyaman dan aman, dengan harga tiket terjangkau. Warga masyarakat memilih kereta api pertama-tama karena pelayanannya dinilai membaik dan meningkat. Juga karena kereta api menjadi solusi dalam menghadapi kemacetan yang sedang mengepung hebat Jakarta dan sekitarnya.
Tidak mengherankan warga masyarakat memberikan apresiasi karena jalur kereta api Serpong-Tanah Abang, yang sempat terhambat oleh kasus tabrakan di Bintaro, beroperasi kembali Selasa kemarin setelah melakukan perbaikan secara cepat.
Tabrakan antara kereta api dan truk tangki BBM milik Pertamina di Bintaro digambarkan tragis. Namun, tidak seperti tragedi dalam legenda Yunani sebagai sesuatu yang sulit dicegah, kasus tabrakan awal pekan ini di Bintaro sebenarnya peristiwa yang dapat dicegah jika ada kedisiplinan dan ketertiban. Secara peraturan, kereta api didahulukan dalam melintas. Moda transportasi jalan raya harus mengalah. Entah apa penyebabnya, truk tangki pembawa BBM berada di batangan rel kereta api, membuat tabrakan tak terhindarkan.
Sejumlah spekulasi bermunculan tentang penyebab tabrakan yang cenderung simpang siur. Sangatlah diperlukan penyelidikan saksama untuk memastikan penyebab sebenarnya. Sebelum hasil penyelidikan diumumkan, sudah dapat disampaikan, pembenahan perlu dilakukan untuk mencegah tragedi serupa.
Masih sering terjadi pengemudi mobil dan motor menerobos pelintasan kereta api tanpa memperhatikan keselamatan diri dan keselamatan orang lain, termasuk penumpang kereta yang akan melintas. Kedisiplinan dan tanggung jawab para pengguna jalan dan jalur kereta api perlu ditegakkan.
Tidak kalah mendesak menghapus pelintasan sebidang kereta api, yang berjumlah ratusan di Jakarta, karena sangat rawan kecelakaan. Sering terlihat mobil dan motor merayap di batangan rel kereta api sebagai imbas kemacetan. Sudah sering diwacanakan penutupan pelintasan sebidang kereta api dengan jalan layang atau terowongan, tetapi sampai kini belum terwujud seperti yang diharapkan. Sungguh konyol jika pelintasan sebidang yang dianggap mengandung risiko kecelakaan tidak segera dibereskan.
Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000003613494
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:
Posting Komentar