Cari Blog Ini

Bidvertiser

Rabu, 11 Desember 2013

TAJUK RENCANA: Pertemuan Israel-Arab (Kompas)

ADAGIUM atau pepatah lama ini—dalam politik tidak ada kawan dan lawan abadi, yang abadi adalah kepentingan— benar adanya.
Paling tidak, pertemuan antara Kepala Intelijen Arab Saudi Pangeran Bandar bin Sultan dan Kepala Intelijen Israel di Geneva, Swiss, akhir November lalu, menegaskan peribahasa itu. Pertemuan itu, menurut The Jerusalem Post, dilakukan tiga hari setelah pertemuan Iran dan P5+1 (AS, Rusia, Inggris, China, Perancis, dan Jerman) yang berakhir dengan dicapainya kesepakatan sementara mengenai program nuklir Iran.

Kesepakatan itulah yang mendorong Arab Saudi dan Israel mendekat. Bagi kedua negara itu, kesepakatan sementara yang tetap memberikan kesempatan kepada Iran untuk meneruskan program nuklirnya secara terbatas untuk tujuan damai adalah membahayakan. Dengan kesepakatan itu, Iran keluar dari isolasi dan dinilai dapat mengurangi, bahkan membahayakan, peran Arab Saudi.

Pertemuan itu mengingatkan peristiwa 3 Januari 1919: Emir Faisal 1 dan Chaim Weizmann, Presiden Organisasi Zionis Dunia, menandatangani kesepakatan kerja sama Arab-Yahudi. Dalam kesepakatan itu, secara bersyarat, Faisal menerima Deklarasi Balfour yang menyatakan tentang pembentukan negara Yahudi di Palestina.

Tentu sekarang ini kerja sama di antara keduanya berbeda dengan kesepakatan tahun 1919. Sekarang ada kepentingan yang sama antara Israel dan Arab Saudi, yakni tetap membiarkan Iran terisolasi. Iran adalah satu-satunya negara yang menantang supremasi Arab di Dunia Islam.

Sejarah mencatat dengan bantuan kekuatan kolonial, Inggris, pada masa lalu, Arab Saudi berhasil menjadi istilahnya "penguasa atas dua masjid suci" di Mekkah dan Madinah. Tentu dengan segala daya dan upaya, Arab Saudi akan mempertahankan posisinya sebagai primus inter pares—yang pertama di antara yang sama—di antara negara-negara Islam atas peran dan kuasanya itu.

Karena itu, kepemilikan program nuklir Iran dilihat bahaya oleh Arab Saudi. Dengan alasan ini pula, Arab Saudi, selain bekerja sama dengan Israel, juga menggandeng Rusia karena merasa ditinggalkan AS.

Hal yang sama juga dirasakan Israel. Tel Aviv selalu melihat Teheran sebagai ancaman: selain mendukung Hezbollah di Lebanon selatan, juga mendukung rezim Bashar al-Assad di Damaskus, serta mengembangkan program nuklir. Iran sendiri, terutama pada masa Ahmadinejad, selalu menyuarakan sikap anti-Israel, bahkan bertekad menghapus Israel dari peta dunia.

Kesamaan musuh itu yang telah mendorong mendekatnya Israel dan Arab Saudi. Barangkali inilah peta baru setelah "Arab Spring" dan mencairnya hubungan AS dan Iran. Dengan demikian, lahir peta politik baru di Timur Tengah yang memunculkan pula pemain baru.

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000003609550
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger