Cari Blog Ini

Bidvertiser

Kamis, 12 Desember 2013

TAJUK RENCANA: Nobel dan Memaknai Perdamaian (Kompas)

UPACARA penyerahan Hadiah Nobel Perdamaian 2013 terasa tidak seperti biasa. Gaungnya tertutup oleh upacara penghormatan kepada Mandela.
Surat-surat kabar internasional pun tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang selalu memberikan tempat bagi penyerahan Hadiah Nobel Perdamaian. Harian The Washington Post versi online, misalnya, di halaman satu tidak ada berita tentang penyerahan Hadiah Nobel Perdamaian. Koran The New York Times, The Telegraph, Pravda, The Jerusalem Post, The Japan Times, dan The Sydney Morning Herald versi online, sekadar menyebut sejumlah surat kabar, juga tidak memuat berita tentang penyerahan Hadiah Nobel Perdamaian pada halaman pertama.

Yang mendapat tempat di koran-koran internasional, juga nasional, adalah upacara penghormatan terakhir kepada almarhum Nelson Mandela di stadion sepak bola di Soweto, Afrika Selatan, yang dihadiri sekitar 90 pemimpin dan kepala negara. Apakah itu salah? Tidak! Mandela juga salah seorang tokoh perdamaian. Bahkan, dia ikon perdamaian dunia.

Mandela tidak lagi menjadi milik rakyat Afrika Selatan, tetapi milik dunia. Dialah salah seorang tokoh yang mencerahkan dunia, yang memberikan kedamaian dunia, yang bisa dicontoh para pemimpin dunia tentang bagaimana perdamaian itu direbut, tidak dengan senjata, tetapi dengan memanfaatkan. Mandela, kata Presiden AS Barack Obama, adalah simbol keadilan, kesamaan, dan martabat.

Hadiah Nobel Perdamaian 2013—yang tahun ini dianugerahkan kepada Organization for the Prohibition of Chemical Weapons (Organisasi Pelarangan Senjata Kimia)—semestinya juga demikian. Sejak pertama dicetuskan oleh Alfred Nobel, itulah tujuannya: mendorong terciptanya perdamaian sehingga mereka yang berjuang untuk mewujudkan perdamaian perlu dan pantas mendapat penghargaan.

Perdamaian bukanlah sekadar berarti tiadanya konflik bersenjata. Perdamaian semestinya lebih dari itu, yaitu tumbuhnya tatanan hidup dalam masyarakat umat manusia sebagaimana ditanamkan oleh penciptanya sehingga dalam hati setiap orang lahir rasa dahaga akan keadilan sejati.

Mengutip kata-kata filsuf dan teolog Augustinus, perdamaian berarti hadirnya kehidupan bersama yang harmonis di tengah masyarakat yang dikelola berdasarkan prinsip keadilan sehingga setiap pribadi dapat mewujudkan dambaannya akan kebaikan, baik pribadi maupun bersama.

Kondisi seperti itu, memang, harus kita akui di banyak belahan dunia belum terwujud. Dunia masih dikuasai oleh nafsu untuk menang sendiri dan nafsu menguasai pihak lain.

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000003629662
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger