Selama ini, Ukraina sering digambarkan sebagai negeri yang terbagi, terpecah: bagian barat pro-Eropa dan bagian timur pro-Rusia. Secara geografis, letak Ukraina berbatasan dengan lima negara: semua wilayah perbatasan bagian timur dan timur laut berbatasan dengan Rusia, bagian barat berbatasan dengan Polandia, Slowakia, dan Hongaria, bagian barat daya berbatasan dengan Romania dan Moldova, serta sebelah selatan dan tenggara berbatasan dengan Laut Hitam dan Azov.
Dengan posisi geografis seperti itu, Ukraina menempati wilayah yang sangat strategis. Ukraina berada di antara Barat dan Timur. Ukraina menjadi tarik-tarikan antara Barat (Uni Eropa) dan Timur (Rusia). Atau, sekurang-kurangnya, rakyat Ukraina sendiri ada yang berusaha menarik negerinya ke Eropa dan ada juga yang berusaha menarik kembali ke Rusia. Sejarah menceritakan, sejak tahun 1939, Ukraina menjadi bagian dari USSR (Uni Soviet) dan baru merdeka, bebas dari Uni Soviet, pada tahun 1991 sebelum Uni Soviet bubar.
Tarik-menarik antara kelompok pro-Eropa dan pro-Rusia itu kini semakin jelas semenjak Presiden Viktor Yanukovych memutuskan menunda penandatanganan kerja sama perdagangan dengan Uni Eropa. Ini sebuah kerja sama yang melapangkan jalan bagi bersatunya Ukraina dengan Uni Eropa.
Keputusan Yanukovych itulah yang oleh, terutama, orang-orang Ukraina bagian barat dilihat sebagai upaya kembali mendekat kepada Rusia. Orang-orang Ukraina bagian barat, yang kini menjadi kelompok anti-pemerintah, pada umumnya merasa lebih Eropa daripada orang-orang Ukraina bagian timur yang berbicara dalam bahasa Rusia.
Karuan saja, kebijakan Yanukovych itu memicu demonstrasi besar-besaran, yang bergulir menjadi gerakan untuk menyingkirkan Yanukovych. Kelompok anti-pemerintah ini menginginkan Ukraina yang bebas, berdaulat, dan demokratis serta dekat dengan Uni Eropa, serta pada saat bersamaan, menjalin hubungan saling menghormati dengan Rusia.
Namun, pemerintah Yanukovych yang didukung kelompok pro-pemerintah, terutama dari wilayah timur yang menjadi pusat industri, menginginkan dijalinnya hubungan kerja sama ekonomi yang lebih kuat dengan Rusia. Mereka berpendapat bahwa hanya dengan bergabung dengan Rusia, Ukraina dapat lebih baik.
Kondisi seperti itulah yang kini dihadapi Ukraina. Kesalahan pemerintah mengambil keputusan bisa jadi akan mendorong Ukraina terjerumus ke dalam kemelut yang lebih besar, krisis politik dan ekonomi yang berkepanjangan.
Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000003715984
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:
Posting Komentar