Disebutkan, dari 129 gunung api yang ada di Indonesia, rata-rata setiap waktu ada 16 gunung yang aktif, dan dari yang 16 itu, empat sampai lima gunung meletus. Dengan Sinabung, dan—Kamis (13/2)—Kelud, angka di atas bukan lagi trivia statistik vulkanologi, melainkan pesan yang mendalam. Jika sebelumnya, sejak gempa Aceh 2004, setidaknya terbit kesadaran pada bangsa Indonesia bahwa wilayah tinggalnya ada di Busur Cincin Api, rentetan letusan gunung api dalam beberapa tahun terakhir—ada Merapi, Lokon, Rokatenda, dan Sinabung dan Kelud—menegaskan amanat alam yang lebih spesifik, yakni keniscayaan memahami gunung berapi di Tanah Air.
Kita sampaikan duka dan keprihatinan untuk korban letusan Gunung Kelud. Solidaritas dan rasa sepenanggungan kita sampaikan kepada pengungsi, yang—sebagaimana pengungsi Sinabung—harus hidup dalam keterbatasan. Mari kita ulurkan bantuan.
Gunung Kelud adalah gunung api setinggi 1.731 meter yang sudah kita kenal karakteristiknya. Vulkanolog mengenal gunung bertipe strato ini sejak letusan tahun 1000, umumnya berciri eksplosif, kecuali yang terjadi tahun 2007 yang bersifat efusif. Letusan eksplosif Kamis malam, dan terakhir tahun 1990 amat dahsyat, dilaporkan melontarkan 200 juta meter kubik material padat. Ini, sebagaimana dicatat Kompas, lebih dahsyat dari letusan Merapi 2010 yang melontarkan 150 juta meter kubik material padat.
Di masa lalu, letusan Kelud menelan korban jiwa dalam jumlah ribuan. Kini, letusan gunung api semestinya tidak perlu menelan banyak korban, hal yang juga kita harapkan pada letusan Kelud kali ini. Kemajuan sains dan teknologi di bidang vulkanologi harus kita kuasai, dan untuk keperluan observasi dan penanggulangan, kita investasikan sarana dan prasarana yang dibutuhkan.
Pertama-tama semua itu kita manfaatkan untuk meminimalkan korban. Berikutnya, mengenal karakter gunung api secara lebih baik juga bisa untuk membantu kita membuat perencanaan tanggap darurat bencana.
Luar biasa dampak letusan gunung api. Selain jatuh korban dan timbulnya pengungsi, mobilitas warga dan transportasi terganggu. Sejumlah bandara ditutup karena operasi penerbangan menjadi berbahaya dengan adanya hujan abu vulkanik. Letusan Kelud 2014 sungguh mengingatkan kita, inilah kondisi yang sudah dan masih akan terus kita hadapi sepanjang masa kita hidup bersama gunung api.
Terhadap daulat alam ini, kita tak kuasa melawan. Yang dapat kita lakukan adalah memahaminya lebih baik sehingga dampak potensialnya dapat kita minimalkan. Boleh jadi itulah kearifan yang dapat kita kembangkan tatkala dihadapkan pada realitas berkoeksistensi dengan gunung api dan lempeng tektonik yang saling mendesak satu sama lain sepanjang masa guna mendapat keseimbangan alamiah.
Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000004829542
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:
Posting Komentar