Cari Blog Ini

Bidvertiser

Sabtu, 15 Februari 2014

TAJUK RENCANA Tragedi di Afrika Tengah (Kompas)

KALAU  keberadaan agama harus dibela dengan kekerasan, apa sumbangannya terhadap peradaban manusia? Lalu apa yang tersisa dari agama?
Dua pertanyaan di atas sengaja kita sampaikan pada awal ulasan singkat ini untuk mengomentari apa yang terjadi di Republik Afrika Tengah saat ini. Dari berita yang tersiar kita mengetahui telah terjadi konflik bermotif sentimen etnis dan agama dengan kecenderungan keras mengarah pada pembersihan kelompok etnis.

Bahkan, Komisioner Komisi Tinggi Urusan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres mengatakan, pembersihan kelompok etnis agama mengancam seluruh Afrika Tengah. Setelah melihat begitu banyak korban tewas dan kondisi mereka, Guterres mengatakan, "Kekerasan yang terjadi di luar rasa kemanusiaan, brutal, dan barbar."

Apa yang terjadi di Afrika Tengah itu mengingatkan kita akan konflik etnis yang begitu menggedor dan mengiris-iris kita pada tahun 1994 di Rwanda. Ketika itu terjadilah apa yang kemudian disebut sebagai genosida, ratusan ribu orang Tutsi dan Hutu moderat dibunuh orang Hutu. Tahun sebelumnya, 1993, terjadi konflik Hutu dan Tutsi di Burundi.

Sebenarnyalah konflik etnis bukan cerita baru di Afrika. Hampir semua negara di Afrika pernah dan banyak yang sampai kini masih dihantui konflik etnis. Pertanyaannya, mengapa konflik mudah pecah di Afrika dan lebih hebat daripada di wilayah lain di dunia ini? Ada yang berpendapat hal itu antara lain disebabkan peran pemerintah kolonial yang berkuasa di negara-negara Afrika. Mereka mengeksploitasi dan menambah rumit hubungan antarkelompok etnis yang memang sulit saling berhubungan.

Apa yang terjadi di Afrika Tengah saat ini pun tidak jauh dari hal tersebut. Negeri yang kaya akan berlian, kayu, emas, uranium, dan bahkan minyak ini tercabik-cabik perang saudara, bahkan sektarian. Pada mulanya pemicu perang adalah kekuasaan, perebutan kekuasaan. Akan tetapi, ketika unsur-unsur etnis dan agama mulai bersentuhan atau dijadikan senjata untuk meraih kekuasaan, persoalannya menjadi rumit. Segala cara akan dilakukan demi kekuasaan dengan selimut etnis dan agama.

Menjadi benar karenanya, selama tidak ada perdamaian antaragama, perdamaian dunia pun akan sulit diciptakan atau malahan tidak akan tercipta. Afrika Tengah yang sudah masuk dalam kamar negara gagal pun mengalami hal semacam itu. Bentrok antara milisi Kristen dan Muslim mengalirkan ribuan orang untuk mencari selamat, dan menghilangkan begitu banyak nyawa di mana-mana di negeri itu.

Sampai kapan kekerasan antarkelompok etnis dan agama berlangsung di negeri itu? Selama agama tetap dijadikan landasan kekerasan, konflik pun akan terus hidup.

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000004827294
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger