Kata "perjuangan" sengaja kita beri tanda kutip karena memang perjuangan mereka bisa dipertanyakan: untuk siapa? demi apa? apakah untuk kebaikan bersama umat manusia atau hanya untuk kepentingan kelompok? Dengan kata lain, apakah perjuangan itu untuk kebaikan bersama atau tidak?
Dalam ulasan singkat ini, kita tidak hendak membahas soal "perjuangan", tetapi lebih mengulas soal mengapa "tujuan menghalalkan cara" masih tetap digunakan sejumlah pihak. Apa yang terjadi di Nigeria, penculikan terhadap gadis-gadis remaja oleh kelompok Boko Haram, menjadi salah satu contohnya. Peristiwa di Nigeria itu membukakan mata dunia bahwa tindak kekerasan yang benar-benar tidak berperikemanusiaan menjadi ancaman dunia dewasa ini, dalam segala macam bentuknya.
Berita yang beredar dari Yaman hari Sabtu lalu menjadi contoh lainnya. Dari Sanaa diberitakan, kantor perwakilan dan kedutaan-kedutaan besar asing di Yaman siaga penuh dan meningkatkan kewaspadaan setelah kelompok militan Al Qaeda kembali menyerang target asing. Memang, terorisme di Yaman, dengan Al Qaeda-nya, bukanlah hal baru, dalam arti sudah lama kelompok itu menjadi ancaman terhadap perdamaian.
Terorisme, memang, bukan fenomena baru dalam sejarah manusia. Kekerasan telah digunakan manusia sepanjang sejarahnya. Mula-mula, teror memang sebagai bentuk perlawanan terhadap negara, terhadap raja, terhadap penguasa. Akan tetapi, dalam perkembangannya digunakan sebagai bentuk tindakan untuk menyerang pihak lain yang dianggap tidak sealiran. Terorisme juga digunakan sebagai alat untuk perjuangan ideologi, mewujudkan cita-cita sebuah kelompok.
Orang kini bicara soal "terorisme baru" yang berkembang sejalan dengan perkembangan zaman, perkembangan ilmu dan teknologi. Apa pun istilahnya, mereka tetap menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.
Apa yang terjadi di Nigeria dan Yaman hanyalah sekadar contoh. Kejahatan semacam itu ada di mana-mana—di Irak, Pakistan, Suriah, dan masih banyak tempat lain bahkan mungkin juga di Indonesia. Mereka muncul dalam berbagai macam bentuk—misalnya, juga bisa kekerasan sebagai alat politik—licik, dan penuh jebakan, tidak manusiawi. Karena itu, harus dihancurkan.
Pertanyaan kita adalah bagaimana kejahatan itu, dengan melakukan teror, bisa dilakukan oleh orang-orang tanpa ada perasaan bersalah? Bahkan, sekarang kita melihat kecenderungan bahwa kekerasan, teror, menjadi pilihan, termasuk juga dalam politik, untuk mewujudkan apa yang mereka inginkan. Ini sungguh mencemaskan.
Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000006574145
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:
Posting Komentar