Cari Blog Ini

Bidvertiser

Kamis, 18 Juni 2015

Bahasa Menunjukkan Bangsa

Ungkapan di judul surat ini mengandung bermacam makna, seperti budaya dan kemampuan olah nalar/logika. Khusus tentang nalar, saya tergelitik mencermati ucapan ketua panitia Jakarta Fair yang di akhir pidato pembukaan acara tersebut, seperti yang ditayangkan televisi, berucap, "Mohon maaf atas segala kesalahan yang tidak disengaja." Kalau tidak disengaja, itu bukan kesalahan, tetapi kekeliruan.

Sering juga saya saksikan di layar televisi seorang penyiar berucap, "Terbesar kedua di dunia." Awalan "ter-" bermakna paling, jadi hanya satu-satunya, sehingga lebih tepat sesudah penggunaan awal "ter-" menggunakan frasa "peringkat kedua", "peringkat ketiga", dan seterusnya.

Kalau bahasa dalam ranah budaya bermakna bagaimana kita sebaiknya bertutur kata dengan orang lain, termasuk orang asing, tidak jarang terjadi benturan budaya.

Contohnya kalau kita bertemu teman di jalan biasa menyapa dengan ungkapan, "Mau ke mana?" atau "Dari mana?" Ungkapan tersebut jangan pernah kita gunakan menyapa orang Barat, orang Belanda misalnya, karena kita akan dianggap kurang ajar (onbeschoft). Sebab, alur nalarnya kita dianggap mau tahu urusan orang lain alias kepo.

FS HARTONO, PURWOSARI, RT 004 RW 059, SIDUADI, SLEMAN, YOGYAKARTA

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 Juni 2015, di halaman 7 dengan judul "Surat Kepada Redaksi".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger