Pemerintah berencana memberikan bebas visa kepada 30 negara lagi. Bila langkah ini terwujud, bebas visa menjangkau 75 negara (Kompas, 30/6). Ini satu terobosan meski belum semaju Malaysia yang ternyata mampu menawarkan bebas visa kepada 156 negara.
Seperti di Malaysia, hendaknya bebas visa diikuti pula dengan bebas isi formulir, baik untuk imigrasi maupun bea dan cukai, agar tidak merepotkan wisatawan asing yang mengunjungi negara kita. Perlakuan seperti ini saya alami ketika mengunjung Ho Chi Minh City baru-baru ini. Kalau Vietnam saja sudah menerapkan bebas formulir, mengapa kita mesti khawatir?
Coba perhatikan sikap petugas Bandar Udara Soekarno-Hatta yang berdiri di samping mesin sinar-X. Mereka tidak pernah membaca sama sekali formulir yang diserahkan penumpang. Lantas buat apa penumpang dibebani pengisian formulir, sementara petugas bea dan cukai sendiri tidak peduli atas keberadaan formulir ini?
Pada sisi imigrasi, selain bebas formulir, perlu disiapkan petugas yang ramah. Ada baiknya memetik contoh dari Tiongkok. Pada setiap meja petugas diletakkan sebuah alat yang merekam penilaian penumpang atas tingkat layanan petugas yang bersangkutan.
WHISNU WHARDANA, JALAN SUKASARI 6 NO 11, BANDUNG
Butuh Buku Bacaan
Saya ibu rumah tangga yang memiliki kegiatan swadaya masyarakat di rumah berupa taman bacaan untuk kalangan anak- anak dan umum. Koleksi buku terdiri dari buku-buku cerita, majalah anak-anak dan dewasa, pengetahuan umum, buku-buku keterampilan praktis, budidaya tanaman, kewiraswastaan, dan agama.
Kegiatan anak-anak selain membaca buku adalah belajar baca tulis, melukis dan prakarya/ berkreasi untuk usia prasekolah dan SD.
Saat ini kami membutuhkan lebih banyak lagi tambahan buku-buku bacaan untuk memenuhi keinginan, kebutuhan, dan minat baca masyarakat, khususnya anak-anak di lingkungan tempat tinggal saya.
Para pembaca yang terketuk hati dapat menyalurkan buku-buku ke taman bacaan kami dan ditujukan kepada Asih Dewayanti, d/a Sanggar Anak Pintar, Jalan Mbah Mukoyim No 25, Desa Lemahabang, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon 45184.
ASIH DEWAYANTI, LEMAHABANG, KABUPATEN CIREBON, JAWA BARAT
Stasiun Jatinegara Tidak Manusiawi
Media telah mempromosikan prestasi Ignasius Jonan ketika menjadi Direktur Utama PT KAI. Juga saya mendengar dari teman-teman yang sering mempergunakan jasa kereta api bahwa perubahan besar layanan kereta api telah terjadi.
Mulai dari sistem pembelian tiket kereta yang sudah online, commuterline yang semakin nyaman dan tepat waktu, hingga perbaikan remunerasi para karyawan PT Kereta Api Indonesia terutama yang bertugas di garda depan.
Sebagai pengajar, saya tertarik mengenali Jonan lebih jauh untuk mengetahui gaya kepemimpinan beliau yang mungkin bermanfaat dijadikan studi kasus. Kemudian saya membeli buku Jonan dan Evolusi Kereta Api Indonesia, cetakan ke-3, yang ditulis Hadi M Djuraid.
Isi buku itu memang mengulas prestasi Jonan. Saya termasuk yang mengagumi beliau meskipun belum pernah naik kereta api pada era kepemimpinannya. Meskipun demikian, saya ingin bercerita tentang pengalaman saya pada Jumat, 3 Juli lalu, di Stasiun Jatinegara. Bisa jadi, pengalaman ini terjadi karena beliau belum sempat menyelesaikan pembenahan seluruh sistem perkeretaapian sudah diangkat menjadi menteri, atau kepemimpinan pasca Jonan yang belum menyentuh Stasiun Jatinegara.
Ketika itu saya menjemput anak perempuan saya dari Yogyakarta. Ia naik KA Taksaka yang seharusnya tiba di Stasiun Jatinegara pukul 15.17 dan baru datang pukul 16.00.
Ternyata tidak ada tempat khusus bagi penjemput. Penjemput—karena tidak ada pilihan—harus berdiri di gang yang kotor. Gang tersebut merupakan lajur penumpang keluar, sehingga ketika panas kepanasan dan ketika hujan kehujanan. Saya dan anak perempuan saya (umur 8 tahun) yang sedang berpuasa, harus sabar menanti.
Sayang sekali kalau masalah kecil ini tidak terkelola dengan baik oleh tim manajemen PT KAI yang baru. Mudah-mudahan Pak Jonan sebagai menteri bisa mengingatkan mereka. Stasiun Jatinegara juga tidak menyediakan tempat parkir mobil.
H ROBERT SUDARYONO, JL RAWA KUNING, PULOGEBANG, CAKUNG, JAKARTA TIMUR
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 Juli 2015, di halaman 7 dengan judul "Surat Kepada Redaksi".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar