Kenaikan produksi disumbangkan oleh kenaikan luas panen sebesar 0,51 juta hektar dan produktivitas sebesar 1,45 kuintal per hektar. Data produksi tersebut diperoleh dari dua sumber, yaitu data luas panen dan perkiraan luas panen yang didapatkan oleh mantri tani dari Kementerian Pertanian dan data produktivitas yang didapatkan melalui ubinan yang dilakukan oleh mantri statistik BPS.
Peningkatan produksi padi untuk beberapa hal dipengaruhi oleh peningkatan anggaran yang drastis di sektor pertanian. Pada akhir tahun 1960-an hingga tengah tahun 1970-an pemerintah menggelontorkan dana untuk sektor pertanian sangat besar, yaitu rata-rata sekitar 30 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yang menyebabkan peningkatan tajam produksi padi sebesar rata-rata 7,98 persen di awal program. Hal yang sama dilakukan pemerintah pada tahun 1980-an, produksi padi naik rata-rata sebesar 6,54 persen dan Indonesia mencapai swasembada beras pada tahun 1984 (DA Santosa, "Swasembada Tanpa Petani", Kompas, 12/5/2015).
Sejak saat itu, meskipun peran besaran anggaran untuk sektor pertanian tetap tinggi, peningkatan produksi melalui kebijakan fiskal mulai mengalami kendala. Program pertanian, baik ekstensifikasi maupun intensifikasi, mengalami stagnasi dan faktor di luar tersebut, terutama iklim, pengaruhnya mulai mendominasi produksi pertanian.
Pada tengah tahun 1995 hingga awal tahun 1996, ditopang oleh iklim yang menguntungkan (Historical El Nino 1950-Present, NOAA, 2015) produksi padi melonjak tinggi.Masa emas tersebut tidak berlangsung lama karena pada bulan April 1997 Oceanic Nino Index (ONI) sudah sama atau lebih dari 0,5
Sejak bulan tersebut, ONI terus menguat hingga mencapai puncaknya pada bulan November 1997 (ONI sebesar 2,3
Iklim juga memainkan peran sangat penting yang menyebabkan peningkatan produksi padi rata-rata sebesar 5,15 persen tiap tahun pada periode 2007-2010. Pada periode tersebut, Indonesia mengalami fenomena La Nina yang menyebabkan kemarau basah. Nilai ONI di sebagian besar bulan di periode tersebut sama atau lebih rendah dari -0,5
El Nino dan produksi pangan 2015
Banyak akademisi, jaringan tani, dan kalangan awam mempertanyakan angka-angka produksi spektakuler yang muncul dalam angka ramalan I-2015. Pemerintah berkilah fenomena El Nino sudah dimasukkan dalam perhitungan perkiraan produksi. Tidak hanya produksi padi, produksi jagung juga diperkirakan naik sebesar 8,72 persen atau sebesar 1,66 juta ton. Kedelai juga akan mengalami peningkatan produksi sebesar 4,59 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Kenaikan produksi tiga komoditas bersama-sama belum pernah terjadi selama belasan tahun terakhir ini. Fenomena yang sering terjadi bila produksi padi meningkat biasanya diikuti oleh turunnya produksi jagung dan/atau kedelai demikian juga sebaliknya.
Meskipun banyak pihak mempertanyakan, pemerintah tetap bergeming dengan menyatakan Indonesia akan surplus beras besar sehingga tidak akan mengimpor beras tahun ini. Demikian juga untuk jagung, Menteri Pertanian juga sudah menghentikan impor lanjutan jagung sebesar 1,35 juta ton. Impor jagung hingga Juli 2015 sudah mencapai 1,65 juta ton, sedangkan kebutuhan industri pakan ternak yang menurut rencana dipenuhi dari impor sebesar 3 juta ton.
Kenyataan yang terjadi di lapang tidaklah demikian. El Nino berlangsung sejak Februari 2015 yang ditandai dengan nilai ONI sama atau lebih tinggi 0,5
Meskipun terjadi peningkatan anggaran pertanian luar biasa besar pada tahun 2015, yaitu masing-masing di atas 100 persen dibandingkan tahun 2014, baik untuk anggaran kementerian maupun subsidi pupuk dan benih, produksi pangan utama dipastikan terdampak besar oleh El Nino. Dari berbagai kajian internasional, fenomena El Nino-La Nina menyumbang variasi produksi sebesar 15-35 persen untuk padi, jagung, kedelai, dan gandum (Ferris, 1999). Perkiraan penulis, El Nino yang masuk kategori kuat tahun ini akan menyebabkan minimum 10 persen lahan pertanian terdampak kekeringan atau seluas sekitar 810.000 hektar, yang jauh lebih tinggi dari perkiraan pemerintah yang hanya sekitar 200.000 hektar. Dari yang terdampak kekeringan, diperkirakan minimum 15 persen atau sekitar 121.500 hektar akan puso.
Berdasarkan pantauan jaringan tani Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) di Pulau Jawa, hingga Juli 2015 tanaman yang mengalami dampak kekeringan sekitar 11 persen. Penurunan produksi di musim tanam II (Maret/April-Juni/Juli 2015) sangat beragam tergantung wilayahnya dengan kisaran dari 10 persen hingga 40 persen dengan rata-rata sekitar 26,3 persen. Pertanaman yang terkena dampak paling tinggi adalah pertanaman yang di awal Juni masih berumur di bawah 60 hari yang berakibat puso (gagal panen) atau terjadi penurunan produksi yang drastis.
El Nino juga menyebabkan terjadinya peningkatan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Perbedaan suhu yang ekstrem antara siang dan malam menyebabkan populasi OPT meningkat, terutama wereng dan ulat penggerek. Dari laporan jaringan tani, serangan OPT pada 2015 lebih tinggi dibandingkan 2014.
Produksi padi pada musim tanam III sudah sulit diharapkan. Jika tahun lalu sekitar 20 persen lahan sawah masih ditanami padi, pada masa tanam III tahun ini hampirnol persen. Periode September-Desember biasanya masih menyumbang produksi sekitar 20-25 persen. Pertanaman jagung, periode September-Desember, masih menyumbangkan produksi sekitar 23 persen, sedangkan pertanaman kedelai lebih tinggi, yaitu sekitar 38 persen. Dengan demikian, iklim kemarau ekstrem tahun ini tidak hanya berpengaruh terhadap produksi padi, tetapi juga jagung dan kedelai.
Upaya atasi dampak kekeringan
Tidak ada solusi instan untuk mengatasi dampak El Nino kali ini. Upaya pemerintah dengan membagi-bagi pompa air tidak akan memberikan dampak karena sebagian besar petani atau kelompok tani sudah memilikinya. Dalam jangka pendek, upaya yang diperlukan adalah mencari sumber-sumber air dan membuat sumur-sumur bor.
Dana yang dimiliki pemerintah sebaiknya disalurkan langsung ke petani untuk membantu petani mengoperasikan pompa air untuk wilayah-wilayah yang masih memungkinkan dan mengganti kerugian petani akibat gagal panen atau penurunan produksi. Untuk masa tanam III, kalaupun disarankan, hanya bisa untuk palawija berumur pendek, misalnya jagung lokal berumur 60 hari yang bila terkena dampak kekeringan bisa dipanen biomassanya untuk pakan ternak.
Dalam jangka panjang, upaya-upaya yang dilakukan pemerintah saat ini sudah dalam rel yang benar melalui pembangunan dam, waduk, dan embung, perbaikan jaringan irigasi, serta infrastruktur di perdesaan. Pemerintah daerah perlu membuat peta sumber daya air. Data curah hujan harus bisa diakses gratis oleh semua instansi, masyarakat umum, dan petani. Pola curah hujan sangat penting untuk merencanakan pola tanam yang lebih baik.
Manajemen pangan perlu diperbaiki dengan memperbaiki data yang ada. Indonesia diperkirakan akan mengalami penurunan produksi pangan tahun ini karena kekeringan yang panjang dan kuat yang mirip dengan El Nino tahun 1997 (FAS-USDA, 27/7/2015). Optimisme berlebihan dari pemerintah akan menguntungkan spekulan pangan dan menyebabkan gejolak harga yang berdampak langsung terhadap masyarakat yang kurang beruntung. Dari sisi politis, ketika pemerintah berkeras untuk menyatakan stop impor beras dan jagung, tetapi kemudian pemerintah mengimpor beras dan jagung (tambahan impor), dengan segera isu tersebut akan menggelinding menjadi bola panas yang dimanfaatkan oleh banyak pihak yang berseberangan dengan pemerintah saat ini.
Penulis yakin Presiden mau mendengar masukan dari semua pihak untuk menyelamatkan kita bersama.
DWI ANDREAS SANTOSA, GURU BESAR IPB; MANTAN ANGGOTA POKJA TIM TRANSISI JOKOWI-JUSUF KALLA
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 10 Agustus 2015, di halaman 6 dengan judul "Kekeringan Mengancam Pangan".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar