Sebelumnya, selamahampir satu bulan (April 1965), saya ikut membantu Ajun Komisaris Polisi Sidarto Danusubroto (ajudan terakhir Presiden Soekarno dan sekarang anggota Wantimpres Presiden Joko Widodo) mendampingi Menlu Pakistan Zulfikar Ali Bhutto, Putri Asraf Pahlevi (adik kembar merangkap utusan khusus Shah Iran Moh Reza Pahlevi), dan Menlu RRT Chen Yi dalam berbagai acara di Jakarta memperingati 10 tahun Konferensi Asia AfrikaBandung.
Suasana politik mulai menghangat setelah pada 17 Agustus 1965 Presiden Soekarno berpidato keras agar Indonesia mencanangkan Politik Berdikari (berdaulat di bidang politik, berdiri di atas kaki sendiri di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang budaya). Presiden Soekarno juga menyerukan persatuan dan kesatuan bangsa dalam rangka menjaga kekompakan nasional antarsemua unsur bangsa.
Samar-samar di sekitar Kampus UI Salemba terdengar gunjingan akan "terjadi apa-apa"antara pemimpin Angkatan Darat di bawah Menko/KASAB Jenderal AH Nasution dan pemimpin Partai Komunis Indonesia di bawah DipaNusantara Aidit.
Pada 6 September 1965, sayadiutus Rektor UI Prof Soemantri Brodjonegoro menghadiri pelepasan almarhum Prof Djokosoetono, Dekan Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat (FHPM) UI merangkap pendiri Perguruan Tinggi Hukum Militer dan pemrakarsa Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian. Menteri Panglima Angkatan Darat Ahmad Yanihadir di rumah duka Prof Djokosoetono di sudut Jalan Jawa dan Jalan Tosari.
Aksi sepihak
Sejak tahun 1963, sebagian surat kabar di Jakarta mulai memberitakan aksi sepihak yang dilancarkan PKI dan sebagian sim- patisannya melawan imperialisme Amerika dan Inggris, melawan kaum kapitalis birokrat, dengan menggunakan bahasa Partai Komunis Tiongkok tentang "7 setan desa" (yang jadi sasaran utama, antara lain, adalah para ulama, tuan tanah, dan lintah darat).
Berbagai aksi sepihak oleh PKI dan Barisan Tani Indonesia (BTI) diberitakan surat kabar Harian Rakjat danMerdeka,pendukung utama Presiden Soekarno. Aksi sepihak PKI/BTIdilancarkan hampir serempak di Jawa Tengah dan Jawa Timur, seperti Purwodadi, Blitar, seputar Klaten, dan Kediri.
Di Kampus UI Salemba terjadi pergesekan antara mahasiswa Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) yang berhaluan komunis dan Himpunan Mahasiswa Islam sekitar desakan PKI agar "kaum sarungan" jangan berdiam diri menghadapi perang antara kaum progresif kiri dan mereka yang dianggap membela ulama dan cendekiawan yang membela feodalisme/tuan tanah.
Pada 1 Oktober 1965, saya berdiri di halaman depan antara Rektorat UI dan Lembaga Kriminologi FHPM ketika seorang mahasiswa CGMI menyapa saya sambil mengumumkan bahwa "jenderal-jenderal sudah diamankan". Belakangan saya mendapat kabar dari pemberitaan radio dan surat kabar di Jakarta bahwa telah terjadi penculikan dan pembunuhanperwira Angkatan Darat dari rumah masing-masing di Jakarta Pusat dan Kebayoran Baru.
Jam malam diberlakukan mulai 1 Oktober petang sampai waktu yang tidak ditentukan. Sementaraitu, Pemimpin Resimen Para Komando Angkatan Darat Kolonel Sarwo Edhie Wibowo langsung mengepung Kompleks RRI di Jalan Medan Merdeka Barat dan melucuti pasukan liar yang digerakkan oleh Letkol Untung yang dianggap menjadi pemimpin militer serta pelaku utama penculikan dan pembunuhan tujuh perwira Angkatan Darat.
Saya terperangah ketika pada Desember 1965, Presiden Soekarno dua kali menyebutkan dalam pidato umum, mengatakan bahwa peristiwa Gerakan 30 September hanya riak kecil dalam gemuruhnya Revolusi Indonesia meskipun PKImemang keblinger dan bertindakkekanak-kanakan.
Saya bertanya dalam hati, mengapa Presiden Soekarno yang saya idolakan sejak saya di SMP Negeri 1 Jakarta sampai hati mengecilkan pengorbanan tujuh perwira yang terbunuh pada 1 Oktober 1965. Belakangan saya baca di buku sejarah bahwa Presiden Soekarno mengutip ucapan Ketua Dewan Keamanan Partai Komunis Uni Soviet Lavrentiy Beria tentang tak terelakkannya korban dalam revolusi.
Oktober 1965 adalah tonggak sejarah pertarungan Timur-Barat dalam era Perang Dingin 1945-1991. Dalam era abad ke-21, pertarungan telah berubah menjadipersaingan RRT, Jepang, Amerika Serikat, dan India, dengan bangsaIndonesia tetap jadi perhitungan.
JUWONO SUDARSONO, GURU BESAR EMERITUS UNIVERSITAS INDONESIA
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 Agustus 2015, di halaman 6 dengan judul "Setelah Barat dan Timur Bertarung".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar