Lebarkan Jalan Hanjawar-Pacet
Menuju Kawasan Wisata Taman Bunga Nusantara (KWTBN), wisatawan dari Jakarta yang melewati kawasan Puncak turun ke arah Ciloto kemudian belok kiri masuk Jalan Raya Hanjawar-Pacet atau Jalan Raya Kota Bunga atau Jalan Raya Sukanagalih. Ketiga nama ini tumpang tindih sepanjang enam kilometer. Tak jelas mana yang resmi diakui Pemprov Jawa Barat.
Lebar jalan jalur Puncak sekitar delapan meter, jalur Hanjawar-Pacet enam meter. Sampai Pasar GSP, pengunjung belok kiri menyusuri jalan selebar empat meter sepanjang 3,5 km melewati Desa Cibadak, Ciwalen, dan akhirnya Kawungluwuk yang merupakan lokasi KWTBN.
Salah satu faktor penunjang utama pariwisata adalah sarana jalan yang lebar dan mulus. Agar wisatawan lebih nyaman berkendara menuju KWTBN, seyogianya instansi berwenang melebarkan jalan itu, khususnya ruas sepanjang 3,5 km di tiga desa di atas, menjadi enam meter.
Pelebaran ini akan sangat membantu meningkatkan citra Provinsi Jawa Barat, apalagi banyak tamu negara yang berkunjung ke KWTBN. Bukankah kita ikut malu jika mereka harus melalui jalan sempit dan rusak, sementara volume lalu lintas di daerah itu terus meningkat?
WIM K LIYONOJL SURYA BARAT, KEDOYA UTARA, KEBON JERUK, JAKARTA BARAT
Pelayanan PT Pos
Sabtu, 22 Agustus, saya ke Kantor Pos, Jalan Imam Barjo SH 2, Semarang, hendak mengirimkan sepeda motor. Kantor Pos cukup ramai saat itu. Di bagian pengiriman ada satu petugas yang melayani sekitar 10 orang yang berdesak-desakan tanpa urutan.
Setelah beberapa menit dalam kesemrawutan, tibalah giliran saya. Saya tanyakan biaya pengiriman sepeda motor ke Wonosobo. Seorang petugas menanyakan detail kecamatan yang dituju, jenis motor, kelengkapan motor, dan lain-lain. Setelah itu dengan menggunakan kalkulator, ia mengatakan biaya pengiriman sekitar Rp 360.000.
Saya diminta mengisi formulir dan fotokopi STNK dan KTP. Saya keluar dari kerumunan melengkapi permintaan petugas. Setelah melengkapi persyaratan, saya masuk barisan. Giliran saya, petugas memasukkan data saya ke dalam komputernya. Ternyata pemrosesan data sangat lama. Hampir 30 menit saya menunggu belum selesai juga. Petugas beralasan bahwa data harus dimasukkan lewat internet dan, kebetulan, koneksi internet di komputernya lambat. Pelanggan semakin ramai, paket-paket dalam kardus-kardus besar dan puluhan amplop berdatangan. Akhirnya, ada tambahan satu petugas lagi di bagian pengiriman.
Petugas yang mengurusi saya akhirnya menggunakan komputer lain untuk menyelesaikan pemasukan data. Kali ini berhasil. Petugas lain meminta kunci sepeda motor dan memeriksa kondisinya sebelum dipak. Petugas mencetak resi biaya dan mengatakan total biaya Rp 575.000.
Saya tanyakan mengapa tiba-tiba keluar angka tersebut. Petugas mengatakan itu adalah biaya menurut ketentuan PT Pos, dengan tambahan biaya untuk pengepakan. Saya sangat kecewa. Saya pikir perkiraan biaya semula Rp 360.000.
Setelah hampir 1,5 jam mengantre dengan hasil ini, tentu saya geram. Biaya Rp 575.000 untuk mengirim sepeda motor dari Semarang ke Wonosobo terlalu mahal. Saya akhirnya tak jadi menggunakan jasa PT Pos karena telanjur kecewa dengan layanannya yang belum menyaingi pelayanan di jasa pengiriman swasta meski biaya lebih tinggi.
Semoga PT Pos Indonesia berbenah. Tempatkan orang terbaik yang berhadapan langsung dengan pelanggan. Buat sistem antrean dan berikan informasi yang tak menyesatkan.
ISNAWAN, KANDRI PESONA ASRI, SEMARANG
Beasiswa Peraih Medali Olimpiade
Menanggapi surat Sdr Azimah di Kompas(31/8), "Kelanjutan Menjadi Juara", dengan ini kami sampaikan, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberi penghargaan bagi siswa berprestasi dalam ilmu pengetahuan, khususnya para peraih medali di Olimpiade Sains Internasional bidang matematika, fisika, kimia, biologi, komputer, astronomi, kebumian, dan geografi. Penghargaan berupa beasiswa melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan tinggi telah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 120 Tahun 2014.
Beasiswa itu untuk mengikuti jenjang pendidikan tinggi sampai dengan program doktor (S-3) bagi peraih medali emas, program magister (S-2) bagi peraih medali perak, program sarjana (S-1) bagi peraih medali perunggu.
Demikian tanggapan kami.
ASIANTO SINAMBELA, KEPALA BIRO KOMUNIKASI DAN LAYANAN MASYARAKAT KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 September 2015, di halaman 7 dengan judul "Surat Kepada Redaksi".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar