Cari Blog Ini

Bidvertiser

Jumat, 11 September 2015

TAJUK RENCANA: Kebijakan yang Menggairahkan (Kompas)

Ke mana perekonomian hendak diarahkan? Inilah satu tugas pemerintah dan konstan jadi pekerjaan teknokrat di banyak negara yang kini makmur.

Pada awal Orde Baru, Indonesia memiliki perencanaan yang dikenal dengan Repelita. Bahkan, Repelita model Indonesia menginspirasi perencanaan Vietnam, yang kini tampil sebagai negara berkembang yang menggeliat. Itu menunjukkan arti penting perencanaan. Profesor Ragnar Frisch dan Jan Tinbergen pada 1969 memperoleh anugerah Hadiah Nobel Ekonomi berkat ketekunannya menggeluti perencanaan.

Tiongkok menjadi contoh mutakhir yang paling kukuh merencanakan perekonomian. Ini didasarkan pada visi untuk menjawab pertanyaan: di mana posisi negara sekarang, hendak ke mana menuju, dan bagaimana mencapai tujuan yang ditetapkan. Ini diterjemahkan ke dalam perencanaan yang dirinci lewat sejumlah kebijakan.

Pemerintah lewat kebijakan ekonomi yang diluncurkan pada Rabu (9/9) mengingatkan lagi pentingnya sebuah perencanaan. Negara berpenduduk besar dengan sumber daya alam berlimpah mutlak memiliki perencanaan.

Begitu lama Indonesia berkutat pada isu pertumbuhan ekonomi semata walau itu tidak menjamin pemerataan, pertumbuhan berkesinambungan, dan stabilitas ekonomi. Aspek pemerataan spasial, pemerataan pendapatan, dan pemberdayaan sempat seperti kurang mendapat perhatian. Stabilitas sosial politik ke depan, salah satunya, bergantung pada pemerataan kesempatan ekonomi.

Di era negara-negara semakin terhubung lewat perdagangan, investasi, dan psikologi pasar, rambu-rambu tentang fondasi ekonomi yang kukuh mutlak dijaga. Atas dasar inilah, relatif menggairahkan seraya memberi harapan ketika pemerintah meluncurkan kebijakan yang menyentuh sisi pemerataan dan stabilitas kurs rupiah.

Ini ekstra penting bagi negara yang telah menjadi bagian dari mata rantai perekonomian global dan bagian dari jaringan pasar uang dan pasar modal global yang semakin mudah terguncang. Secara implisit, kebijakan baru memikirkan bagaimana posisi ekspor untuk memperkuat cadangan devisa, bagian terpenting stabilisasi kurs. Di dalam kebijakan itu juga termasuk pemikiran tentang pembangunan wilayah, infrastruktur, yang justru semakin mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.

Di dalam kebijakan terbaru disinggung pembesaran kue ekonomi yang melibatkan semua warga sekaligus partisipasi usaha skala menengah dan kecil. Indonesia dibawa kembali ke jalur masa depan yang lebih menjanjikan lewat kebijakan-kebijakan.

Tentu kebijakan baru yang layak disambut ini menunggu waktu untuk diuji. Apakah efektif dan akan benar-benar diimplementasikan. Banyak negara tetangga yang berlari lebih cepat secara ekonomi. Jangan lagi membiarkan waktu berlalu sia-sia. Itu bukan saja soal harkat bangsa, melainkan juga demi kesejahteraan rakyat, pilar stabilitas bangsa.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 September 2015, di halaman 6 dengan judul "Kebijakan yang Menggairahkan".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger