Tertarik perbincangan syair "Indonesia Raya" dalam Surat Pembaca (Kompas, 15/8 dan 9/9), bagian "Di sanalah aku berdiri...", menurut saya, masih relevan. Frasa "di sanalah" menunjuk seluruh Tanah Air Indonesia Raya.
Dengan demikian, di mana pun kita berdiri—di sepanjang Tanah Air Indonesia dari Sabang sampai Merauke—kita dapat menunjuk ke arah Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Papua, dan ribuan pulau lain sebagai Tanah Air kita. Di sanalah kita menjadi "Pandu Ibuku".
Seandainya kita berada di negeri asing—dengan jutaan rakyat Indonesia diaspora—syair tersebut masih relevan untuk menyebut "Di sanalah aku berdiri". Artinya, pikiran, hati, dan jiwa raga kita tetap akan menunjuk wilayah Indonesia Raya dari Sabang sampai Merauke, dalam imajinasi kita karena di sanalah kita berasal, bahkan bila lahir di negeri asing sekalipun. Sekiranya syair itu diganti menjadi "Di sinilah aku berdiri", kan, aneh kalau kita menyanyikannya di Amerika Serikat, Jerman, atau Australia.
"Di sanalah aku berdiri" sejatinya adalah syair nasionalisme bagi rakyat Indonesia di mana pun mereka berada, sekaligus mempersatukan dan mengingatkan bahwa tanah airnya adalah wilayah dari Sabang sampai Merauke.
Jadi WR Supratman telah menuliskan syair "Indonesia Raya merdeka merdeka, tanahku, negeriku yang kucinta" dengan visi yang jauh melampaui zamannya. Biarkan syair "Indonesia Raya" apa adanya karena kemerdekaan dari penjajahan belum cukup. Masih banyak kemerdekaan lain yang perlu diperjuangkan, kemerdekaan dari kemiskinan, gizi buruk, dan keterbelakangan di segala bidang.
MAJU HUTAJULU, JL MAYOR OKING JAYAATMADJA, PERUMAHAN CIRIUNG CEMERLANG RT 002 RW 014, CIBINONG, JAWA BARAT
Susu Rasa Tengik
Saya bekerja di perusahaan kecil di kawasan industri Inkopau Pondok Gede yang berusaha memberikan menu tambahan berupa susu kepada karyawan setiap bulan sejak 2012.
Kami biasa membeli susu kental manis merek Enaak yang diproduksi PT Indolakto, Cicurug, Sukabumi, dan tidak ada masalah. Namun, pada 19 Desember 2014, susu yang sama yang kami beli di Lotte Mart Pasar Rebo, Jakarta Timur, bermasalah. Dengan masa kedaluwarsa Juli 2015, susu itu ternyata sudah basi ketika dikonsumsi Mei-Juni 2015. Susu itu berasa asam, berbau tengik, dan membuat karyawan batuk-batuk. Saya mencoba mengonsumsi susu dari kemasan yang sama dan memang terbukti basi.
Maka, 19 kaleng susu kental manis Enaak saya kembalikan ke Lotte Mart Pasar Rebo pada 19 Juni 2015 dan diterima oleh Ibu Maimunah selaku Counter Supervisor Lotte Mart Pasar Rebo. Namun, hingga saat ini belum ada tindak lanjut dari PT Indolakto ataupun Lotte Mart Pasar Rebo.
IR SOEPARDI, PIMPINAN PT GEDE PRIMA PRESISI, JL RING RUDAL, BOJONG NANGKA, JATIRAHAYU, BEKASI
Asap di Graha Asri Residence
Setiap pagi hingga malam hari, dan berulang pada pagi berikutnya, asap pembakaran sampah tempat pembuangan akhir (TPA) liar mengepung Perumahan Graha Asri Residence—sebelumnya bernama Puri Asri Pratama—dan perumahan lain di sekitarnya.
Asap dari pembakaran sampah tersebut sudah berlangsung bertahun-tahun. Namun, sampai sekarang keluhan warga tidak pernah mendapat perhatian serius dari pemerintah, khususnya Pemerintah Kabupaten Bekasi. Lokasi TPA liar ini hanya berjarak 50-100 meter dari rumah warga.
Entah mengapa protes warga bahwa asap itu mengganggu pernapasan tidak pernah digubris, baik oleh pelaku di lapangan maupun pemerintah setempat. Apakah warga harus terus menghirup asap, dari pagi hingga malam hari, dan pagi berikutnya?
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pneumonia telah menyerang warga, terutama anak-anak. Kabut asap di Perumahan Graha Asri Residence, Telajung, Setu, telah jadi ancaman serius bagi warga.
Kami, atas nama warga, memohon kepada Ibu Bupati Bekasi untuk meninjau langsung lokasi perumahan. Berbagai upaya sudah kami tempuh untuk menghentikan ulah TPA liar tersebut, tetapi tidak berhasil. Sebagai dokter, Ibu Bupati tentu sangat paham dampak asap ini buruk terhadap kesehatan dan kecerdasan anak-anak.
WAHYUDIN ASTAMAN SAPUTRA, PENGURUS RT 001 RW 007, RESIDENCE

Tidak ada komentar:
Posting Komentar