Cari Blog Ini

Bidvertiser

Kamis, 10 Desember 2015

TAJUK RENCANA: Trump Tak Mengerti Nilai-nilai AS (Kompas)

Pernyataan Donald Trump, calon presiden AS dari Partai Republik, yang melarang warga Muslim memasuki wilayah AS dinilai rasis dan menebar kebencian.

Pernyataan yang disampaikan Trump di Carolina Selatan, AS, Senin (7/12) lalu, itu dianggap sebagai pendapat pribadi, sama sekali tidak mewakili AS. Presiden Barack Obama melalui pejabat tinggi di Kementerian Luar Negeri, Ben Rhodes, mengatakan, apa yang disampaikan oleh Trump itu bertentangan dengan nilai-nilai AS.

Hillary Clinton dan mantan Wakil Presiden Dick Cheney mengatakan, gagasan Trump itu bertentangan dengan apa yang diperjuangkan AS. Bukan itu saja, malah pesaingnya di Partai Republik, Jeb Bush, mengatakan, "Donald Trump tak waras. Proposal kebijakannya tak serius."

Menjawab pertanyaan, Duta Besar AS untuk Indonesia Robert O Blake Jr menegaskan, pernyataan Trump itu sama sekali tidak mewakili nilai-nilai yang dianut pemerintah dan sebagian besar warga AS.

Penegasan bahwa pernyataan Trump itu tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut pemerintah dan sebagian besar warga AS perlu terus disuarakan agar jangan sampai terbentuk persepsi bahwa AS membenci warga Muslim.

Donald Trump memang bukan politisi. Oleh karena itu, ia tidak terlatih untuk berkomunikasi secara baik dan benar dengan masyarakat yang akan dibujuk untuk memilihnya sebagai presiden. Sebagai pengusaha, boleh saja ia orang yang hebat, tetapi apabila melihat pernyataannya yang melarang warga Muslim memasuki AS, tampak ia sama sekali tidak mengenal masyarakatnya sendiri.

Semboyan nasional AS adalahE Pluribus Unum, bahasa Latin, yang hampir sama dengan Bhinneka Tunggal Ika, bermacam-macam tetapi satu. Semboyan itu pada prinsipnya berarti Pemerintah AS tidak membeda-bedakan warga negara AS berdasarkan ras dan agama. Pada masa lalu, sebelum Perang Saudara AS (1861-1865) dan pada awal 1960-an memang ada perbedaan perlakuan terhadap warga kulit hitam. Namun, kini hal itu sudah tidak ada lagi. Bahkan, terpilihnya Barack Obama sebagai presiden berkulit hitam pertama AS pada 2009 merupakan cerminan bahwa sebagian besar warga negara AS tidak lagi membeda-bedakan warna kulit.

Pernyataan kontroversial Trump tidak saja bisa memancing reaksi keras dari rakyat dan negara lain terhadap warga negara AS, tetapi juga dapat memunculkan kebencian rakyat AS terhadap warga Muslim di AS.

Tidak ada satu pun pemimpin AS yang menginginkan terjadinya hal itu. Itu sebabnya, mereka berlomba-lomba maju dan mengekspresikan ketidaksetujuan atas Trump. Masalah ras dan agama adalah hal yang paling berbahaya untuk dijadikan alat meraih popularitas.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 10 Desember 2015, di halaman 6 dengan judul "Trump Tak Mengerti Nilai-nilai AS".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger