Cari Blog Ini

Bidvertiser

Jumat, 08 Januari 2016

TAJUK RENCANA: Korea Utara Berulah Lagi (Kompas)

Untuk kesekian kali, Korea Utara mencari perhatian dunia dengan melakukan tindakan yang melukai masyarakat dunia pencinta damai.

Menurut berita yang tersebar, juga disiarkan oleh harian ini, Rabu lalu, Korea Utara melakukan uji coba bom hidrogen. Ini uji coba keempat yang dilakukan Korut. Tiga uji coba sebelumnya dilakukan pada 2006, 2009, dan 2013.

Sangat wajar dan bisa diterima kalau tindakan Korut itu memancing reaksi mulai dari prihatin hingga kecaman dari banyak negara, termasuk PBB. Sekutu lama Korut—Rusia dan Tiongkok—dengan keras mengecam uji coba itu. Moskwa bahkan menyebut tindakan itu sebagai "pelanggaran besar" terhadap hukum internasional. Bahkan, Tiongkok menyebut uji coba itu sebagai "berbahaya, tidak bertanggung jawab, dan ugal-ugalan"; karena itu, "tidak bisa diterima dan ditoleransi".

Uji coba bom hidrogen itu, pertama-tama, menunjukkan bahwa Korut tidak mendukung upaya untuk denuklirisasi, melanggar resolusi PBB, dan mengabaikan usaha masyarakat internasional untuk mengurangi ambisi atomiknya. Dengan kata lain, rezim Pyongyang tidak mendukung terciptanya kawasan aman dan damai.

Sulit memahami mengapa Korut melakukan hal itu atau mengapa Korut senang berjalan melawan arus. Memang, tidak mudah memahami negara yang sudah setengah abad menutup diri dari dunia luar sehingga sering secara sinis Korut disebut negeri "autis", tak pernah bergaul atau tidak mengetahui pergaulan internasional.

Barangkali, bagi rezim Pyongyang, uji coba bom itu atau senjata nuklir yang dimilikinya menjadi jaminan bagi keberlangsungan diri. Akan tetapi, apakah jalan seperti itu yang harus ditempuh untuk menjamin keberlangsungan rezim negeri berpenduduk sekitar 25 juta jiwa itu.

Sebenarnyalah, bukan jalan seperti itu—melakukan uji coba bom dan melakukan provokasi—untuk menyelamatkan Korut, negeri yang tertinggal dari saudaranya, Korea Selatan, dalam kemajuan. Korea Selatan bisa bangkit dari tumpukan abu Perang Korea (1950-1953) dan melahirkan generasi meritokratik serta berkembang maju. Sebaliknya, Korut terkurung dalam tragedi.

Yang harus dilakukan rezim yang berkuasa di Pyongyang untuk membangun perekonomian, menyejahterakan, dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi rakyatnya adalah membuka diri dan menjalin hubungan dengan dunia luar. Senjata nuklir bukan jawaban atau solusi untuk mengatasi persoalan yang sekarang membelit negeri itu.

Oleh karena itu, adalah mendesak untuk menghidupkan kembali proses perundingan perdamaian yang akan menjadi pintu bagi terciptanya perdamaian kawasan dan kemajuan Korut sehingga negeri itu tidak selalu berbuat yang aneh-aneh.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Januari 2016, di halaman 6 dengan judul "Korea Utara Berulah Lagi".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger