Cari Blog Ini

Bidvertiser

Senin, 11 Januari 2016

TAJUK RENCANA: Mengelola Air secara Presisi (Kompas)

Memasuki pertengahan Januari, sejumlah kawasan pertanian tanaman pangan belum mendapat curah hujan cukup untuk memulai cocok tanam.

Petani, terutama di kawasan yang belum terairi pengairan teknis, terpaksa menggunakan pompa untuk mendapatkan air bagi tanaman dan ternak. Beberapa waduk juga berkurang airnya.

Tahun lalu, kita mengalami fenomena iklim El Nino dengan intensitas kuat sehingga menyebabkan kemarau panjang. Bukan hanya menyebabkan menurunnya produksi pangan, kekeringan panjang tersebut ikut memperburuk kebakaran hutan. El Nino diperkirakan masih akan berlangsung satu-dua bulan ke depan. Musim tanam di sejumlah daerah mundur. Hal itu akan memengaruhi ketersediaan pangan nasional.

Pemerintah sudah memutuskan mengimpor beras sejak akhir tahun lalu dari Vietnam, kemudian Pakistan, dan terakhir dari India. Langkah ini sebagai antisipasi mundurnya saat tanam musim rendeng yang biasanya berlangsung Oktober-Maret.

Masyarakat internasional mengakui terjadinya perubahan iklim. Pemerintah Indonesia berkomitmen ikut memitigasi dampak perubahan iklim dalam konferensi iklim dunia di Paris, November-Desember tahun lalu.

Mengelola air secara tepat dan akurat menjadi sangat penting dalam proses adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Peran air sangat vital dalam kehidupan. Kekurangan dan kelebihan air memiliki dampak yang sama merugikan bagi kita.

Setahun lalu, pemerintah meniatkan membangun bendungan dan embung untuk menampung air hujan pada musim hujan agar tidak menjadi banjir dan sebagai sumber air bagi pertanian dan keperluan lain saat kemarau tiba. Lokasi bendung dan embung pun sudah ditentukan.

Beberapa bendungan dan embung sudah selesai dibangun, yang terbesar Bendung Jati Gede di Jawa Barat. Namun, yang ada belum memadai. Banjir masih terjadi, bahkan pada awal musim hujan. Sementara itu, sebagian petani kesulitan air. Embung-embung belum terbangun seperti dijanjikan. Menjadi tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah merealisasikan janji itu.

Pola hujan menentukan pola musim tanam, ketersediaan air untuk pembangkit listrik, dan air untuk kebutuhan sehari-hari. Perubahan iklim dan bentang wilayah Indonesia yang luas menuntut kita memiliki data pola curah hujan per wilayah yang selalu dimutakhirkan.

Musim kemarau panjang dari tahun 2015 hingga awal 2016 seharusnya mengingatkan kita untuk tidak lagi menunda pengelolaan air secara presisi, apalagi di tengah perubahan iklim.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 Januari 2016, di halaman 6 dengan judul "Mengelola Air secara Presisi".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger