Cari Blog Ini

Bidvertiser

Selasa, 16 Februari 2016

TAJUK RENCANA: Presiden Berbagi Pengalaman di AS (Kompas)

Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN-Amerika Serikat yang berlangsung di Sunnylands, California, AS, 15-16 Februari 2016, ini menarik dari sejumlah hal.

Ini akan menjadi pertemuan serupa yang terakhir kali dihadiri Presiden AS Barack Obama karena Obama akan mengakhiri masa jabatannya pada awal tahun depan. Pada sisi lain, Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ini juga akan menjadi kesempatan kedua bagi Presiden Joko Widodo untuk bertemu dengan pemimpin AS dan kalangan bisnis serta pemimpin perusahaan teknologi informasi-komunikasi (TIK).

Dalam KTT bertema "Kerja Sama untuk Perdamaian dan Kesejahteraan" ini, Presiden dijadwalkan memimpin sesi khusus mengenai terorisme. "Kesempatan itu akan saya gunakan untuk berbagi pengalaman sebagai (kepala) negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia dalam membangun toleransi, mencegah radikalisasi, serta memberantas terorisme," kata Presiden sebelum bertolak ke AS.

Presiden menegaskan, untuk mencegah tumbuhnya radikalisme dan aksi-aksi terorisme, Indonesia sadar betul betapa pentingnya melibatkan masyarakat, termasuk melalui media sosial, dalam melawan terorisme.

Indonesia yang sudah berulang kali terkena serangan teroris memang ingin didengar pengalamannya dalam menanggulangi fenomena global yang meresahkan ini.

Kita berharap Presiden bisa menjelaskan semua upaya penangkalan terorisme dengan sebaik-baiknya. Tentu penjelasan itu masih akan diuji efektivitasnya di Indonesia sendiri, benarkah kebijakan dan langkah yang ditempuh selama ini sudah memberi hasil yang memuaskan.

Ini kita anggap penting mengingat sejak awal dekade silam, khususnya sejak Bom Bali, kita sudah mengerjakan banyak hal, tetapi kejadian teror masih terus terjadi, hingga yang terakhir dalam serangan Bom Thamrin.

Di luar isu terorisme, Presiden akan mengaitkan isu kesejahteraan dengan upaya pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM). Tidak kalah penting tentu pertemuan Presiden dengan sejumlah chief executive officerperusahaan TIK di Lembah Silikon.

UKM kita akui kekenyalannya dalam menghadapi badai perekonomian. Namun, usaha ini juga tidak imun terhadap kesulitan karena—antara lain—banyak bahan baku mereka impor, seperti kedelai. Kemarin, di tengah melemahnya rupiah, ikut susah pula mereka.

Hal lain yang bisa kita catat, UKM juga semakin membutuhkan dukungan TIK di tengah mengglobalnya pasar, dan semakin naik daunnya industri kreatif.

Semoga lawatan Presiden Joko Widodo ke AS kali ini bermanfaat tidak saja untuk berbagi pengalaman mengenai masalah terorisme, tetapi juga dalam mengembangkan kemampuan nasional di bidang TIK.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 16 Februari 2016, di halaman 6 dengan judul "Presiden Berbagi Pengalaman di AS".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger