Menurut lembaga tersebut, jumlah korban tewas perang di Suriah—yang bermula dari demonstrasi menuntut keadilan di Dera'a berubah menjadi revolusi menuntut demokratisasi, lalu perang saudara, kemudian perang sektarian, perang proksi, dan perang tiga pihak antara pemerintah, oposisi, dan NIIS—sudah mencapai 470.000 orang. Hingga 18 bulan lalu, PBB mencatat korban tewas dalam perang Suriah mencapai 250.000 orang.
Sampai akhir 2015, jumlah korban luka mencapai 1,88 juta. Lebih dari 7,5 juta orang menjadi pengungsi di dalam negeri Suriah. Sebanyak 4,1 juta orang mengungsi ke negara tetangga, seperti Turki, Lebanon, dan Jordania. Lebih dari satu juta orang Suriah mengungsi ke Eropa.
Angka-angka itu tentu tidak sangat tepat. Artinya, bisa lebih banyak atau lebih sedikit dari jumlah tersebut. Palang Merah Internasional, misalnya, pekan lalu, memberitakan 50.000 penduduk Aleppo yang digempur pasukan Suriah, didukung Rusia, mengungsi meninggalkan kota itu. Tidak ada jaminan bahwa semua pengungsi itu selamat.
Dari hitung-hitungan Pusat Kebijakan Riset Suriah (SCPR), korban tewas ataupun luka sekitar 11,5 persen dari jumlah seluruh penduduk Suriah sebelum perang, yakni 22,5 juta jiwa. Jumlah tersebut pasti terus bertambah, baik yang tewas, luka, maupun yang mengungsi, juga yang kekurangan makanan. Sebab, perang hingga kini terus bergejolak.
Perang yang meletus sejak Maret 2011 itu tidak hanya menyebabkan ratusan ribu orang tewas, hampir dua juta orang terluka, jutaan orang mengungsi, dan banyak lagi kekurangan makanan, tetapi juga menurunkan harapan lamanya orang hidup. Pada 2010, artinya sebelum perang, harapan hidup orang 70 tahun, tetapi pada 2015 harapan hidup turun menjadi 55,4 tahun. Sangat masuk akal apabila angka harapan hidup itu turun. Sebab, kondisi di Suriah sangat tidak mendukung orang bisa hidup aman dan tenteram, tercukupi kebutuhan dasar hidup, dan kesehatannya terjamin.
Mereka adalah manusia, bukan sekadar data statistik. Perang selalu mudah dimulai dan sulit dihentikan, serta menjadi sumber munculnya tragedi kemanusiaan. Apa yang terjadi di Suriah bisa digolongkan sebagai tragedi kemanusiaan yang sangat menodai peradaban manusia sebagai makhluk berbudi luhur.
Tragedi itu harus dihentikan. Siapa yang bisa menghentikan? Dua kekuatan besar dunia—Amerika Serikat dan Rusia—bisa menghentikan tragedi kemanusiaan di Suriah. Dunia, termasuk Indonesia, harus mendorong dan mendesak kedua negara itu segera bertindak, dengan mengesampingkan kepentingan masing-masing.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar