Bahasa pada dasarnya berfungsi sebagai media komunikasi yang estetik. Bahasa menunjukkan bangsa, demikian bunyi sebuah ungkapan. Pada 28 Oktober 1928, komitmen berbahasa Indonesia—yang bercikal dari bahasa Melayu—diikrarkan dalam Sumpah Pemuda, pada poin ketiga: "Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia".
Namun, saat ini, kita sebagai bangsa terbentur pada fenomena yang menyayat hati, yaitu mengasingkan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia sedang ditelanjangi kesatuannya dengan maraknya penggunaan bahasa asing, seperti bahasa Inggris, Mandarin, Jerman, Jepang, Korea, Perancis, dan Belanda. Bahasa Indonesia kian tersingkir eksistensinya. Bahkan, menurut beberapa pemberitaan, banyak anak kota di Indonesia sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia gara-gara berbahasa asing terus-menerus.
Telah banyak artikel, berita, ataupun opini yang muncul di berbagai media, termasuk dalam koran ini, yang merisaukan kemalangan nasib bahasa Indonesia. Padahal, selayaknya kita menjaga kelestarian bahasa Indonesia dengan cara menggunakannya dalam percakapan sehari-hari, serta mendukungnya agar menjadi bahasa internasional.
MUHAMMAD HUSEIN HEIKAL
Jalan Harmonis Lk I, Tanjungbalai, Sumut 21363
Intan Trisakti
Sekitar 50 tahun silam, sejumlah warga Kalimantan Selatan menemukan intan raksasa 166,75 karat. Itulah intan terbesar yang pernah ditemukan manusia pasca Perang Dunia II.
Intan itu langsung diambil oleh penguasa setempat. Menurut catatan arsipKompas, Presiden Soekarno kemudian memperlihatkan kepada publik di Istana pada 5 Februari 1966.
Intan akan dikirim ke Belanda untuk digosok di perusahaan Asscher, Amsterdam. Sekretaris Negara memanggil direksi Garuda Indonesia Airways untuk mengirimnya. Saya sebagai wakil kepala ground operationharus mencari cara untuk mengirim.
Ketika itu, Direktur Operasi Garuda adalah Kapten Soejalmo, yang mengatakan intan harus dikirim secara estafet melalui para kapten yang terbang ke Amsterdam, yaitu Kapten Soemedi Amir (sampai di Bombay) dan kemudian diambil alih Kapten M Syafei (sampai di Amsterdam). Kedua kapten tersebut adalah para penerbang terbaik Garuda.
Intan itu selamat sampai di Amsterdam, lalu dipecah-pecah dan digosok. Intan hasil gosokan yang terbesar adalah 55 karat. Harga intan itu seluruhnya, waktu itu, 2 juta gulden atau sekitar Rp 30 miliar sekarang.
Sebagai kompensasi temuan, pemerintah memberangkatkan 500 warga kampung tempat intan ditemukan naik haji. Biaya naik haji yang dikeluarkan pemerintah sekitar Rp 1 miliar.
Intan diberi nama Trisakti dan kemudian diurus pemerintah. Namun, tidak diketahui bagaimana nasibnya setelah itu.
WAL SUPARMO
Kebon Jeruk RT 010 RW 050, Jakarta Barat
Layanan Nam Air
Saya sekeluarga pada akhir Januari memesan tiket penerbangan Jambi-Batam (untuk 3 Februari 2016) dengan Lion Air dan Batam-Jambi (7 Februari 2016) dengan Nam Air.
Sampai saat turun dari kapal di Batam Center dari Johor Bahru, Malaysia, semua berjalan lancar. Setelah itu saya mendapat pesan singkat tentang perubahan jam terbang Nam Air dari pukul 17.50 ke 18.45. Namun, pada pukul 19.00 ada pengumuman bahwa ada gangguan di Bandara Batam sehingga pesawat tidak bisa mendarat. Semua penumpang yang sudah check in akan dipindah ke penerbangan pada 8 Februari. Tidak ada kompensasi dengan alasan pembatalan bukan karena kesalahan maskapai.
Kami pun keluar dari bandara, naik taksi untuk mencari hotel. Namun, malam itu, semua hotel penuh karena malam Imlek. Untung akhirnya kami mendapat hotel meski berupa kamar suite dengan tarif Rp 1,3 juta.
Tak lama kemudian, saya menerima telepon dari pihak Nam Air di Batam. Katanya, karena pesawat sudah penuh, kami tidak dapat penerbangan pada 8 Februari. Pilihannya adalah dipindah ke penerbangan pada 9 Februari, atau uang tiket dikembalikan.
Bagi kami, menginap semalam di Batam sudah memberatkan. Karena itu, saya berusaha menelepon layanan Nam Air, tetapi tetap dijawab tidak ada kursi.
Dengan berat hati, akhirnya kami memilih pengembalian uang. Untung ada maskapai lain yang terbang dari Batam pada 8 Februari dan kami pun dapat pulang ke Jambi.
Mudah-mudahan ke depan Nam Air lebih punya hati. Seharusnya mereka menyadari besarnya kerugian yang diderita para pelanggan jika ada perubahan jadwal penerbangan.
ACHIRUDDIN
Jl Mandala No 12 Pematang Sulur, Telanaipura, Kota Jambi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar