Selasa (19/4), pemimpin oposisi meninggalkan ruang sidang dan tidak mau meneruskan perundingan damai. Hal itu dilakukan sebagai protes atas serangan terhadap pasar di kota Maaret al-Numan dan Kafranbel, yang menewaskan sedikitnya 44 orang. Kelompok oposisi menuduh pengeboman di dua kota di bagian utara Suriah tersebut dilakukan oleh pendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Oposisi menuduh, sejak kesepakatan gencatan senjata dimulai 27 Februari 2016, terjadi lebih dari 2.000 pelanggaran oleh Pemerintah Suriah. Rusia meluncurkan roket dan pesawat tanpa awak serta Iran mengirimkan pasukan untuk membantu pasukan pemerintah.
Oposisi mendapat dukungan dari Amerika Serikat (AS), yang menginginkan dibentuknya pemerintahan transisi tanpa mengikutsertakan Assad. Arab Saudi, Turki, dan Qatar juga mendukung penggulingan Assad. Wajar saat perundingan di Geneva gagal, pemerintah Assad menuduh negara itu yang sengaja menggagalkan perundingan ini.
Ketua perwakilan negosiasi Bashar al-Jaafari mengatakan, Turki, Arab Saudi, dan Qatar memang tidak menginginkan ada dialog antarwarga Suriah. Mereka tidak ingin menghentikan pertumpahan darah di Suriah dan tidak ingin ada solusi politik di Suriah.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov terang-terangan mengatakan, ada pemain di luar arena perundingan, yang diprakarsai Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang bermimpi tentang penggulingan Assad melalui kekuatan militer. "Mereka juga mencoba melakukan sesuatu untuk bisa menghentikan pembicaraan di Geneva ini," katanya.
Di tengah penghentian pembicaraan, militan Front al- Nusra mengaku berhasil merebut kota Deir al-Zor, kota di timur Suriah, Selasa kemarin. Pengamat mengatakan, lima serangan udara jatuh di kota tersebut dan para pejuang militan itu terus bergerak ke selatan.
Krisis Suriah sudah berlangsung selama lima tahun dan sudah menewaskan sedikitnya 250.000 orang. Kondisi Suriah makin bertambah parah karena keterlibatan besar AS dan Rusia, yang masing-masing didukung beberapa negara di kawasan. Perundingan damai adalah satu-satunya cara agar penderitaan rakyat Suriah tidak semakin parah. Kita mendukung kesepakatan antara Presiden AS Barack Obama dan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk tetap melanjutkan perundingan.
Kelanjutan dan bahkan keberhasilan perundingan bisa menjadi kado bagi Obama, yang pekan depan akan berkunjung ke Timur Tengah. Jika perundingan harus terhenti, kehadiran Obama di kawasan dapat dipakai untuk menekan ketiga negara yang menjadi pendukung oposisi.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 21 April 2016, di halaman 6 dengan judul "Menunggu Peran Obama".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar