Cari Blog Ini

Bidvertiser

Jumat, 15 April 2016

TAJUK RENCANA: Naik, Pelaku Bom Bunuh Diri Anak (Kompas)

Jumlah anak-anak yang diperalat untuk melakukan serangan aksi bom bunuh diri di sejumlah negara di Afrika Barat meningkat tajam.

Fakta itu dikemukakan Badan Perserikatan Bangsa- Bangsa untuk Anak-anak (Unicef), 12 April lalu. Menurut Unicef, pada 2014, anak-anak yang diperalat untuk melakukan serangan bom bunuh diri berjumlah empat orang, dan tahun berikutnya jumlah tersebut meningkat menjadi 44 orang. Semua aksi bom bunuh diri anak itu terjadi di Nigeria, Kamerun, Chad, dan Niger. Kamerun tercatat sebagai negara dengan serangan bom bunuh diri anak terbanyak, yakni 21 anak, diikuti Nigeria dengan 17 anak.

Kenyataan itu sangat memprihatinkan. Bagaimana mungkin anak-anak yang seharusnya dididik untuk meniti masa depan yang lebih baik, tetapi dikorbankan demi tujuan dan ambisi politik. Anak-anak tersebut bukan pelaku. Mereka adalah korban. Itu sebabnya, kita setuju dengan pernyataan Manuel Fontaine, Direktur Unicef Afrika Barat dan Tengah, "Menipu anak-anak dan memaksa mereka melakukan tindakan yang mematikan merupakan salah satu aspek yang paling mengerikan dari kekerasan di Nigeria dan negara tetangga lainnya."

Dari 44 anak yang melakukan aksi bom bunuh diri itu, 75 persen di antaranya adalah anak perempuan. Ada dugaan anak perempuan pelaku aksi bom bunuh diri tersebut merupakan bagian dari 276 pelajar perempuan yang diculik Kelompok Boko Haram dari asrama sekolah menengah di Chibok, kota kecil di bagian utara Nigeria, dua tahun lalu. Hingga kini, sebanyak 219 pelajar perempuan Nigeria masih hilang.

Banyaknya anak yang diperalat untuk melakukan serangan aksi bom bunuh diri itu membuat kecurigaan terhadap anak-anak, terutama perempuan, meningkat tajam. Keadaan seperti itu tidak boleh dibiarkan terus berlanjut. Baik itu di Afrika Barat maupun di sejumlah negara lain di dunia.

Anak-anak sebaiknya dibiarkan hidup di dalam dunianya sendiri dan tidak dihasut atau dimanipulasi untuk tujuan-tujuan politik, apalagi didorong untuk melakukan aksi bom bunuh diri. Apalagi jika alasannya semata-mata hanya agar pelaku aksi bom bunuh diri tidak dicurigai.

Tujuan-tujuan politik seharusnya diperjuangkan oleh laki-laki atau perempuan dewasa yang secara sadar memang memilih tujuan-tujuan politik itu dan siap menanggung apa pun risiko dari perjuangannya itu.

Dan, yang tidak kalah penting adalah mereka menyadari bahwa kekerasan bukan satu-satunya jalan untuk mencapai tujuan-tujuan politik mengingat kekerasan hanya akan memancing terjadi kekerasan yang lebih hebat. Tujuan-tujuan politik juga dapat diperjuangkan melalui cara-cara damai.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 April 2016, di halaman 6 dengan judul "Naik, Pelaku Bom Bunuh Diri Anak".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger