Cari Blog Ini

Bidvertiser

Rabu, 20 April 2016

TAJUK RENCANA: Rendahnya Peringkat Literasi (Kompas)

Pengumuman hasil pemeringkatan literasi (melek huruf) dari 61 negara dan Indonesia duduk di peringkat ke-60 jangan membuat kita putus asa.

Tidak berguna kita protes. Lebih baik berpikir dengan kepala dingin bahwa studi deskriptif yang dilaksanakan Central Connecticut State University, AS, dengan menguji sejumlah aspek itu, kita pakai sebagai bahan mawas diri. Budaya membaca kita, faktor penyebab utama rendahnya literasi, rendah. Standar UNESCO waktu membaca 4-6 jam sehari, sementara kita 2-4 jam sehari, padahal negara maju 6-8 jam sehari.

Untuk memenuhi standar UNESCO, kita perlu mengubah kebiasaan dari 24 jam sehari, minimal 4 jam diisi membaca. Dikurangi 6 jam untuk tidur, sisanya yang 14 jam untuk yang lain-lain, rasanya memadai. Masalah lain menyangkut apa yang kita baca dan bagaimana cara kita membaca.

Tiga masalah (alokasi waktu, bahan bacaan, sarana) terkait satu sama lain. Mengalokasikan 4 jam untuk membaca merupakan tantangan besar, sebab kita belum beranjak dari budaya lisan, sebagai sebuah warisan. Memilih buku yang dibaca dihadapkan pada banyak aspek, selain kurang bersemangat mencari dan memproduksi ilmu pengetahuan, juga ketersediaan sarana. Menggunakan sarana secara tepat pun masalah lain lagi.

Dalam hal peningkatan literasi, ketiga masalah itu perlu diatasi serentak. Benar pemberantasan buta huruf diselenggarakan sejak tahun 1960-an, dimaknai lebih luas. Repotnya dalam hal peningkatan literasi, kita mengalami loncatan salto.

Dengan budaya lisan yang dominan dan belum selesai dengan budaya baca, kita hidup dalam budaya digital. Budaya baca yang memberi ruang berkembangnya ilmu pengetahuan belum sempat tumbuh seperti di negara maju. Budaya digital memang mengandalkan pada berkembangnya budaya baca, tetapi di sini dan saat ini lebih banyak dikembangkan sebagai sarana komunikasi.

Gambaran sepintas apa yang pernah diupayakan dalam peningkatan literasi terasa kontradiktif dengan hasil survei Indonesia di peringkat ke-60, setingkat di atas Bostwana di peringkat terakhir. Adapun lima teratas didominasi negara Nordic dengan Finlandia di urutan pertama.

Beberapa tahun belakangan ini, Finlandia menjadi referensi kemajuan praksis pendidikan. Namun, ketika negara seperti Jepang ada di peringkat ke-32, misalnya, reaksi spontan: benarkah hasil survei itu atau tidak digunakannya variabel jumlah penduduk sebagai salah satu aspek?

Tak ada gunanya kita menggugat atas benar tidaknya hasil survei itu. Lebih baik kita pungut sebagai bahan belajar. Peningkatan literasi perlu kita upayakan bersama, pemerintah, keluarga, dan masyarakat, sebab itu awal menuju kemajuan.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 April 2016, di halaman 6 dengan judul "Rendahnya Peringkat Literasi".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger