Sebanyak 367 anggota atau lebih dari dua pertiga suara anggota (367 dari 513 suara) mendukung pemakzulan. Bak sebuah film, drama politik di Brasil menggambarkan pertarungan kekuasaan yang penuh intrik dan muslihat. Rousseff dimakzulkan karena dituduh telah menggunakan dana dari bank negara untuk menyeimbangkan anggaran. Sampai kini belum ada bukti bahwa ia bersalah.
Namun, tujuan pemakzulan memang bukan soal apakah ia bersalah atau tidak, tetapi karena kubu oposisi melihat ada peluang untuk berkuasa dengan memanfaatkan kemarahan rakyat terhadap skandal korupsi Petrobars. Skandal korupsi yang masif itu telah menjerat lebih dari 50 politisi dan konglomerat, di antaranya elite politik dari partai Rousseff, Partai Pekerja.
Dilma Rousseff memang tidak terkait langsung dengan skandal Petrobars. Namun, kondisi ekonomi Brasil yang terus memburuk dan telah membuat sekitar 1,5 juta orang kehilangan pekerjaan membuat rakyat marah terhadap pemerintah. Rakyat pun turun ke jalan.
Kesempatan inilah yang digunakan kubu oposisi, yang dipimpin Ketua Parlemen Eduardo Cunha, untuk "menggalang" pemakzulan. Ironisnya, Cunha bukan politisi bersih. Ia dituduh menyimpan dana hasil suap sebesar 40 juta dollar AS di rekening bank di luar negeri.
Siapakah yang diajak Cunha untuk berkomplot? Wakil Presiden Michel Temer, mitra koalisi Rousseff. Beberapa pekan sebelum proses pemakzulan, Temer menyatakan partainya, Partai Gerakan Demokratik Brasil yang memiliki kursi terbanyak di parlemen, menjadi oposisi.
Pengkhianatan Temer membuat Rousseff berang. Apalagi, Temer sudah tersandung kasus penggelapan skema pembelian etanol. Jadi, jika Rousseff menuding lawan-lawan politiknya lebih kotor, ia tidak salah. Namun, itulah politik. Benar atau salah tidak lagi hitam putih. Etika pun sudah dilupakan. Bahkan, sebelum proses pemakzulan, Temer sudah berlatih pidato sebagai presiden.
Rousseff masih harus menunggu keputusan Senat yang terdiri atas 81 senator, 11 Mei nanti. Apabila mayoritas menyetujui pemakzulan, ia harus turun dari posisi presiden, setidaknya enam bulan, untuk diperiksa. "Saya tak akan terpuruk. Saya akan terus melawan seperti apa yang saya lakukan sepanjang hidup saya," kata Rousseff.
Indonesia pun pernah mengalami pemakzulan presiden. Koalisi partai-partai yang berkuasa pecah dan berubah haluan menjadi oposisi untuk mendukung pemakzulan. Adagium itu tetap berlaku. Tak ada kawan dan lawan yang abadi, yang abadi hanyalah kepentingan.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 April 2016, di halaman 6 dengan judul "Rousseff Terjegal Pengkhianatan".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar