Dalam peristiwa pembajakan yang berlangsung sekitar pukul 18.20 itu, 1 anak buah kapal (ABK) tertembak dengan luka tembak yang serius di dada, 5 ABK selamat, dan 4 ABK lainnya diculik. ABK yang tertembak itu telah dirawat secara intensif di Tawau, Malaysia.
Peristiwa pembajakan itu langsung menjadi perhatian utama Pemerintah Indonesia karena merupakan peristiwa yang kedua dalam tiga minggu terakhir. Pada tanggal 26 Maret lalu, kapal tunda Brahma 12 dan tongkang Anand 12 beserta 10 ABK-nya dibajak oleh Kelompok Abu Sayyaf dan dibawa ke Filipina. Kelompok Abu Sayyaf kemudian meminta tebusan sebesar 50 juta peso (sekitar Rp 14,3 miliar).
Berbeda dengan yang pertama, pada pembajakan yang kedua ini, yang diculik hanya 4 ABK. Selain itu, juga belum ada kabar tentang ada atau tidaknya permintaan tebusan untuk melepaskan 4 ABK yang diculik.
Namun, terlepas dari ada atau tidaknya perbedaan antara pembajakan yang pertama dan kedua, pembajakan dan penculikan di perairan di perbatasan Malaysia-Filipina itu tidak dapat dibiarkan terus berlangsung.
Itu sebabnya, kita sepenuhnya mendukung arahan Presiden Joko Widodo untuk menjajaki pembentukan patroli bersama antara Indonesia, Malaysia, dan Filipina, sebagaimana diungkapkan Luhut Pandjaitan, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan. Luhut Pandjaitan mengungkapkan hal itu di Bandara Halim Perdanakusuma, Minggu, seusai melepas keberangkatan Presiden ke Eropa.
Patroli bersama dibutuhkan untuk menangkal gangguan keamanan yang semakin meningkat di perairan perbatasan ketiga negara. Selanjutnya, gagasan itu tinggal disampaikan kepada Malaysia dan Filipina. Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, gagasan tersebut akan disampaikan melalui jalur diplomasi oleh Kementerian Luar Negeri.
Diplomasi memang merupakan jalur yang paling tepat untuk menjajaki kemungkinan membentuk patroli bersama di perairan di perbatasan sehingga tiap-tiap pihak berdialog pada tataran yang sama, tidak ada yang merasa lebih daripada yang lain. Ada banyak contoh, gagasan yang baik akhirnya tidak dapat terwujud hanya karena cara pendekatan yang salah.
Kita sangat berharap gagasan patroli bersama tiga negara itu dapat diwujudkan agar perairan di perbatasan ketiga negara dapat dilalui dengan aman. Apalagi Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan, TNI AL dapat berkoordinasi dengan AL Malaysia dan AL Filipina dalam mengembalikan keamanan perairan di perbatasan ketiga negara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar