Itu antara lain pesan Bank Dunia terkait proyeksi terbaru pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Pada saat yang sama, dunia juga waswas mengantisipasi sidang The Fed, 26-27 April, yang akan memutuskan suku bunga acuan Amerika Serikat. Kendati ekonomi AS diklaim membaik, indikasi bahwa AS mempertahankan suku bunga di tengah situasi ekonomi dunia dan pasar uang, seperti sekarang, juga kuat.
Tak adanya kenaikan suku bunga AS akan dibaca pasar sebagai semacam konfirmasi masih beratnya ekonomi AS dan global ke depan. Langkah AS mempertahankan bunga dan tren bunga negatif di negara maju juga memunculkan peringatan akan bahaya rezim suku bunga negatif bagi ekonomi dan keuangan global.
Sementara ekonomi Tiongkok diprediksi melambat dari 6,9 persen pada 2015 ke 6,7 persen pada 2016, serta 6,5 persen pada 2017 dan 2018. Pelambatan ekonomi Tiongkok yang lebih serius dari perkiraan diperkirakan memukul pertumbuhan negara berkembang Asia Pasifik hingga setidaknya pada 2018 dengan pertumbuhan Asia Pasifik diprediksi melambat dari 6,5 persen pada 2015 menjadi 6,3 persen pada 2016, serta 6,2 persen pada 2017 dan 2018.
Transmisi dampak terutama terjadi lewat penurunan permintaan komoditas negara berkembang oleh Tiongkok. Asia Tenggara, dimotori Vietnam dan Filipina, diprediksi masih tumbuh 6 persen, terpesat di dunia. Indonesia diprediksi tumbuh 5,1 persen di 2016 dan 5,3 persen di 2017.
Pelambatan Asia Pasifik yang menyumbang hampir 40 persen produk domestik bruto (PDB) dunia juga menekan pertumbuhan global. Prediksi pelambatan Tiongkok dikeluarkan di tengah prospek suram ekonomi dunia, ditandai melambatnya pertumbuhan PDB, melambatnya pertumbuhan perdagangan dunia, anjloknya harga komoditas, dan gejolak pasar finansial.
Bank Dunia juga mengingatkan negara berkembang berjaga-jaga terhadap kemungkinan gejolak pasar global. Sinyal yang kita tangkap dari AS dan Tiongkok adalah bagaimana kita menjaga stamina untuk melewati masa sulit periode gejolak global dan membangun stabilitas ekonomi domestik dengan memacu sumber pertumbuhan dalam negeri. Berbeda dengan negara lain, ekonomi Indonesia yang cenderung rentan bergerak tak sinkron dengan ekonomi global.
Tekanan global, seperti anjloknya harga komoditas, akan berpengaruh langsung kepada Indonesia, memukul ekspor dan pertumbuhan. Sebaliknya, tren positif, seperti rendahnya harga minyak dan pangan di pasar global, yang mampu mendongkrak perekonomian banyak negara, justru tak diikuti penurunan harga pangan dalam negeri akibat respons lambat pemerintah menyikapi gejolak harga dalam negeri.
Situasi ke depan menuntut kehati-hatian tinggi semua negara. Tantangan terberat adalah sempitnya ruang manuver dari sisi makroekonomi, justru di saat kebijakan fiskal diharapkan jadi instrumen utama membentengi ekonomi domestik dari tekanan krisis dan gejolak global. Memperkuat bantalan fiskal tidak mudah di tengah tekanan fiskal dan seretnya menggenjot penerimaan, khususnya dari pajak.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 April 2016, di halaman 6 dengan judul "Sinyal dari Ekonomi AS dan Tiongkok".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar