Cari Blog Ini

Bidvertiser

Sabtu, 11 Juni 2016

Pengurusan KTP//Tanggapan Singapore Airlines//Dirugikan SMS Info Tunda//Perbaikan Ponsel (Surat Pembaca Kompas)

Pengurusan KTP

Pemerintah telah menetapkan bahwa mengurus KTP tidak lagi memerlukan surat pengantar dari RT/RW. Di satu sisi keputusan ini sangat membantu warga sehingga bisa mengurus KTP secara efisien dan cepat. Namun, di sisi lain keputusan ini juga memunculkan celah yang bisa dimanfaatkan pihak tertentu untuk membuat KTP yang tidak diketahui pengurus RT/RW.

Kita tahu bahwa KTP sangat vital karena menjadi tanda pengenal dalam berbagai urusan di Indonesia. Karena itu, bukan tidak mungkin ada penduduk siluman yang tidak diketahui keberadaannya oleh RT/RW setempat.

Oknum-oknum pemilik KTP asli, tetapi palsu ini, bisa dengan mudah menyalahgunakan KTP-nya. Dari urusan bank yang bersifat teknis sampai urusan politik, termasuk di antaranya jual beli suara. Nah, kalau sudah begini akan semakin runyam persoalan di negeri ini.

Jadi, menurut saya pemerintah perlu meninjau kembali kebijakan mengurus KTP tanpa pengantar pengurus RT/RW. Mungkin untuk memperbarui KTP boleh saja tanpa surat pengantar, tetapi apabila membuat KTP baru—pada pendatang baru, misalnya—seharusnya ada surat pengantar dari RT/RW. Dengan demikian, pengurus RT/RW mengetahui semua warga yang tinggal di wilayahnya.

Saya berharap, jangan sampai keputusan warga mengurus KTP tanpa surat dari RT/RW ini menjadi blunder.

ARIES MUSNANDAR

Srigading Dalam, Malang, Jawa Timur

Tanggapan Singapore Airlines

Menanggapi surat Bapak Indra Suryawan,Kompas, Rabu (1/6) dengan judul "Koper Rusak", Singapore Airlines telah menghubungi Bapak Indra Suryawan untuk klarifikasi dan menyelesaikan masalah tersebut.

Kami menyesali ketidaknyamanan yang dirasakan dan berterima kasih atas kepercayaan Bapak kepada Singapore Airlines.

Kami juga ingin menyampaikan bahwa setiap keluhan terkait layanan Singapore Airlines dapat disampaikan melalui id_feedback@singaporeair.com.sg.

GLORY HENRIETTE

Manager Public Relations Singapore Airlines, Menara Kadin Indonesia Lt 8, Jl HR Rasuna Said Blok X-5, Jakarta

Dirugikan SMS Info Tunda

Minggu, 29 Mei 2016, pukul 12.17, saya memesan tiket Citilink dari Surabaya ke Jakarta, untuk penerbangan pukul 19.00 dengan nomor penerbangan QG 818.

Pada pukul 14.09 saya mendapat SMS resmi dari Citilink yang menginformasikan bahwa penerbangan QG 806 ke Jakarta akan diberangkatkan pukul 21.50.

Mendapatkan SMS resmi dari Citilink dan posisi saya masih di jalan, saya tidakngeh bahwa nomor penerbangan yang diinformasikan via SMS berbeda dengan yang saya dapatkan sebelumnya (QG 818). Saya pun bilang ke istri bahwa penerbangan dimundurkan menjadi pukul 21.50.

Saya baru ngeh ketika pukul 18.30, saat hendak check in untuk QG 818, ternyata sudah tidak bisa. Ternyata SMS yang dikirim Citilink adalah SMS untuk pelanggan dengan penerbangan QG 806, bukan QG 818.

Karena sudah telanjur salah terima informasi SMS Citilink dan saya juga tidak mengecek nomor penerbangannya, saya pun terpaksa membeli lagi tiket pesawat Citilink tujuan Jakarta yang terbang pukul 21.20.

Saya berharap Citilink lebih profesional mengirimkan informasi penundaan penerbangan atau pengalihan waktu penerbangan kepada konsumen melalui SMS. Kami konsumen banyak yang tidak terbiasa dengan nomor penerbangan sehingga kekeliruan mengirim SMS pada pelanggan yang salah bisa berdampak merugikan, seperti yang saya alami.

Seharusnya hanya penumpang dengan pemilik nomor penerbangan yang sesuai dengan jadwal penundaan yang mendapatkan SMS, bukan penumpang dengan nomor lain! Akibat SMS tersebut, dalam sehari saya harus membeli tiket dua kali untuk penerbangan yang sama dan dengan harga yang tidak murah.

RASNO

Karang Mulya, Karang Tengah, Ciledug, Tangerang

Perbaikan Ponsel

Pada 13 Mei 2016, saya membawa ponsel saya Samsung Galaxy E5 ke Samsung Service Center di ITC Roxy Mas. Kondisi saat itu layar mati kena air.

Menurut layanan pelanggan, ponsel masih menyala, hanya perlu ganti LCD. Teknisi mengatakan hal yang sama dengan perkiraan biaya Rp 940.000.

Saya diminta menunggu 1 jam. Saat kembali, teknisi mengatakan, selain LCD, mesin juga harus diganti. Jadi, total biaya LCD dan mesin Rp 1.950.000.

Karena biaya cukup besar, saya meminta ponsel dikembalikan. Saya kaget karena LCD jadi pecah dan ada kotoran, seperti sudah lama. Saat diserahkan LCD tidak pecah dan tidak kotor.

Saya kecewa.

LIANA

Kalideres, Jakarta

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 Juni 2016, di halaman 7 dengan judul "Surat Kepada Redaksi".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger