Cari Blog Ini

Bidvertiser

Sabtu, 11 Juni 2016

TAJUK RENCANA: Bola Bukan Sekadar Hiburan (Kompas)

Kecintaan akan sepak bola tak perlu diragukan. Namun, bicara soal prestasi sepak bola nasional kita, tetap tak beranjak, bahkan di tingkat regional sekalipun.

Euro 2016 digelar dalam kondisi kota Paris dan sejumlah kota lain di Perancis pada Kamis (9/6), atau sehari sebelum pembukaan Piala Eropa di Perancis 2016, Jumat (10/6), masih diliputi lumpuhnya jalur kereta api, sampah menumpuk, dan pembatalan agenda wisata (Kompas,10/6). Belum lagi muncul ancaman bom hingga Pemerintah Perancis membuat aplikasi anti teror dan tentu upaya lain untuk membendung itu.

Di Benua Amerika juga berlangsung Piala Amerika 2016 atau Copa America Centenario (100 tahun), yang diikuti 24 negara di benua itu. Berbeda dengan Piala Eropa 2016, kondisi dalam negeri tempat penyelenggaraan Piala Amerika, yakni Amerika Serikat, cukup kondusif bagi terlaksananya perhelatan ini.

Dua pergelaran akbar di benua sepak bola ini menyita perhatian sebagian rakyat Indonesia. Soal kecintaan masyarakat Indonesia terhadap sepak bola, hal itu tidak perlu disangsikan lagi. Bahkan, kompetisi sepak bola negara utama sepak bola di Eropa, seperti Inggris, Spanyol, Perancis, Belanda, dan Jerman, disiarkan langsung oleh televisi lokal. Namun, apa yang didapatkan dunia sepak bola Indonesia dari siaran langsung kompetisi tersebut?

Dalam dua tahun terakhir, kondisi sepak bola nasional justru diributkan oleh pembekuan pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Akibatnya, pembinaan sepak bola Indonesia seolah berhenti di tempat meskipun beberapa turnamen sudah dan sedang digelar.

Bahkan, pelatih asal Austria, Alfred Riedl, yang dua kali menjadi pelatih di Indonesia, kembali dipilih PSSI untuk menangani timnas Indonesia. Riedl tak pernah ikut uji kelayakan dan kepatutan yang dilakukan Komite Teknik dan Pengembangan PSSI. Komite memanggil tiga pelatih saja: Nil Maizar, Rachmad Darmawan, dan Indra Sjafri.

Beda antara siapa yang dipanggil dan keputusan yang diambil menunjukkan kekurangpaduan pengurus PSSI. Hal itu tidak hanya menunjukkan cara kerja PSSI yang kurang rapi, tetapi upaya pembinaan juga tidak akan mungkin optimal.

Kita pun menjadi ragu untuk tetap berharap PSSI dapat membawa sepak bola berprestasi di tingkat regional, apalagi internasional. Kesenjangan antara harapan dan realitas ini tidak bisa terus diabaikan. Harapan besar rakyat akan berbuah antipati jika kondisi sepak bola nasional tetap tidak beranjak.

Sepak bola bagi bangsa Indonesia hanya sekadar hiburan, tanpa memberi arti apa pun bagi pembinaan sepak bola nasional. Mungkin, kita dapat mengerti kendala yang dihadapi PSSI, tetapi sebagian besar rakyat rasanya sulit menerima kenyataan ini.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 Juni 2016, di halaman 6 dengan judul "Bola Bukan Sekadar Hiburan".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger