Ia gemilang mencapai 2.388 delegasi yang dibutuhkan untuk menjadi kandidat resmi Partai Demokrat. Seharusnya di titik ini Partai Demokrat bisa mengatur strategi untuk memperjuangkan kemenangan Hillary melawan kandidat Partai Republik, Donald Trump.
Persoalannya, kandidat Partai Demokrat lainnya, Senator Bernie Sanders (74), tak bersedia mengaku kalah dan mundur dari pemilihan. Sanders malah menegaskan akan terus bertarung sampai Konvensi Partai Demokrat Juli mendatang. Bagi Demokrat, dan juga bagi Hillary, langkah Sanders ini sangat menyulitkan dan bakal menguras tenaga karena fokus mereka menjadi terbelah.
Namun, untuk mengesampingkan Sanders dari percaturan juga tidak mudah. Kampanyenya yang menyengat, penuh dengan gagasan mendobrak sistem sosial yang lebih menguntungkan kaum mapan, merebut hati kaum muda dan kelompok kulit putih yang reformis. Dukungan bagi Hillary mayoritas berasal dari kelompok berumur dan kelompok nonkulit putih, seperti masyarakat Hispanik dan kulit hitam. Jika dukungan itu disatukan, ini akan menjadi kekuatan besar bagi Demokrat.
Demokrat tetap membutuhkan partisipasi Sanders untuk merengkuh pendukungnya yang bertekad "Sanders atau tak memilih". Bagaimana cara Demokrat mengambil hati Sanders, sekaligus membujuknya untuk menghentikan kompetisi dengan Hillary? Tugas ini diserahkan kepada Presiden AS Barack Obama. Bagi Obama, penting untuk segera memberikan dukungan kepada calon resmi Demokrat. Ia ingin Demokrat bersatu melawan Trump.
Obama tentu ingat, tahun 2008 Hillary dengan besar hati mundur dari pencalonan dan mengakui kemenangan Obama sebagai kandidat presiden Partai Demokrat. Padahal, dari sudut statistik, jarak kekalahan Hillary terhadap Obama jauh lebih tipis dibandingkan Sanders terhadap Hillary. Saat itu Hillary mengatakan, Partai Demokrat tak ubahnya keluarga sehingga semua pihak perlu merekatkan kembali tali persatuan.
Hillary pun kini tahu diri. Ia menjaga perasaan Sanders untuk meraih simpati pendukungnya. Selama ini ia lebih banyak memojokkan Trump dalam kampanyenya daripada menyerang Sanders. Dalam kampanye terakhirnya, ia memuji kampanye Sanders yang disebutnya "luar biasa".
Dalam pertarungan politik, menerima kekalahan dan mengakui kemenangan lawan selalu sulit, apalagi jika itu dilakukan setelah melalui persaingan sengit. Namun, justru inilah yang menjadi kadar kematangan seorang pemimpin. Berjiwa kesatria dan mengedepankan kepentingan yang lebih besar. Al Gore pernah melakukan itu kepada George W Bush. Kini kita menunggu kebesaran hati Sanders.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar