Cari Blog Ini

Bidvertiser

Jumat, 10 Juni 2016

Terima Kasih Cerpen ”Kompas”//BPJS Individu (Surat Pembaca Kompas)

Terima Kasih Cerpen "Kompas"

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Kompas yang melalui Kompas Minggu-nya telah secara konsisten menghadirkan ruang bagi seni dan sastra untuk bertumbuh.

Saya berkenalan dengan cerpen Kompastahun 2010, pertama kali membaca "Pistol Perdamaian". Setelah itu saya keranjingan memburu dan membaca cerpen-cerpen pilihan Kompas yang dibukukan. Saya mengoleksi semua buku kumpulan cerpen Kompas dari 1992.

Buku-buku itu membuat saya mencintai cerpen, belajar menulis cerpen, dan mengenal Seno Gumira Ajidarma, Jujur Prananto, Hamsad Rangkuti, Gus Tf Sakai, Agus Noor, Triyanto Triwikromo, hingga Guntur Alam dan Eko Triono. Mereka sastrawan-sastrawan idola saya.

Saya membayangkan, bila Kompas tidak membukukan atau lebih jauh lagi tidak menghadirkan rubrik cerpen, jalan saya bercengkerama dengan mereka akan lebih sulit.

Tahun 2015, saya menjadi pesertaworkshop cerpen Kompas di Jakarta. Saya bertemu langsung dengan para cerpenisKompas sekaligus tangan-tangan dingin di balik rubrik cerpen Kompas Minggu. Kesempatan langka itu benar-benar menjadi hadiah untuk saya.

Pada Selasa (31/5), saya hadir di Malam Jamuan Cerpen Kompas sekaligus penganugerahan cerpen terbaik Kompas2015 di Bentara Budaya Jakarta.

Saya salut dengan kesetiaan Kompasuntuk tetap menghargai seni dan sastra, juga para sastrawan yang secara diam-diam memberi pengajaran hebat melalui prosa memikat mereka.

Ahmad Tohari yang begitu santun dan sederhana, sambil menerima trofi sebagai cerpenis terbaik Kompas 2015, bertutur bahwa melalui cerpen nada protesnya yang keras dan banyak kata kurang sopan tersamarkan.

Saya benar-benar menikmati acara dan bertemu langsung dengan para cerpenisKompas malam itu, sekaligus berterima kasih karena terus menjaga rubrik cerpen dan sekaligus menjaga roh kebersenian di Indonesia. Saya teringat kalimat Budi Darma, kadang realitas jauh lebih fiksi dari cerpen itu sendiri.

Mungkin cerpen Kompas dapat menjadi oase sekaligus pengenyah gundah di tengah hidup yang serba susah. Lebih dari itu, kejujuran dan kesantunan para cerpenis Kompas telah menjadi teladan bagi pembaca yang dituangkan melalui karya-karya mereka. Tak perlu ruang kelas, tak perlu pengeras suara, karena para cerpenis punya ruang berharga untuk menyampaikan nilai-nilai hidup yang menyejukkan.

TEGUH AFANDI

Editor fiksi di Noura Books

BPJS Individu

Kami, suami-istri usia 73 tahun dan 67 tahun. Sejak akhir 2014 tercatat sebagai peserta BPJS individu.

Istri saya sudah tiga kali menjalani operasi tumor jinak yang tumbuh di atas selaput otak pada tahun 1998, 2003, dan 2011. Gejala yang sering dirasakan adalah pusing, limbung, dan berakhir tidak sadarkan diri bila lupa tidak minum obat.

Sejak awal berkonsultasi dengan dokter saraf di RS Islam, Pondok Kopi, Jakarta Timur, kami sampaikan kondisi kesehatan istri. Kami sampaikan berkas- berkas hasil CT Scan dan hasil pemeriksaan dari Departemen Medik Patologi Anatomik RSUP Cipto Mangunkusumo.

Oleh dokter saraf di RS Pondok Kopi, istri saya diberi obat phenytoin sodium danfolic acid, masing masing untuk satu bulan. Hal ini sudah berlangsung lebih dari 1,5 tahun.

Pada 21 April 2016, kami berkonsultasi rutin ke dokter saraf dan setelah pemeriksaan diberi resep obat, seperti bulan-bulan sebelumnya.

Kami ke apotek BPJS yang ada di lingkungan rumah sakit. Setelah antre, kami dipanggil petugas apotek, memberi tahu bahwa stok phenytoin habis. Kami disarankan telepon beberapa hari lagi.

Setelah beberapa kali telepon ke apotek, baru pada 3 Mei 2016 stok tersedia. Setelah beberapa saat menunggu, kami dipanggil ke loket, diberi tahu bahwa karena obat phenytoin obat reguler, tidak bisa diberikan 90 kapsul sesuai resep, melainkan hanya 20 kapsul sesuai aturan BPJS.

Kami sampaikan kepada petugas, bahwa obat tersebut sudah kami dapatkan 1 (satu) tahun lebih sesuai resep dan tidak ada masalah. Petugas menjawab, memang aturannya demikian.

Mohon penjelasan BPJS atas masalah ini.

RIJANTO WIRIOWIJOTO H

Kav DKI, Jl Pondok Kelapa Duren Sawit, Jakarta Timur

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 10 Juni 2016, di halaman 7 dengan judul "Surat Kepada Redaksi".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger