Selain menewaskan 11 orang, termasuk polisi yang memang menjadi target utama penyerangan itu, serangan bom mobil tersebut juga mencederai 36 orang lainnya. Serangan bom mobil pada hari Selasa lalu itu merupakan serangan bom kelima sejak awal tahun 2016.
Pada Januari lalu, bom bunuh diri meledak di Istanbul, yang diduga dilakukan milisi Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). Ledakan bom itu menewaskan 12 wisatawan Jerman. Serangan bom juga menyasar ibu kota Turki, Ankara. Tahun ini sekurang-kurangnya terjadi dua serangan bom di Ankara yang menewaskan lebih dari 60 orang.
Serangan-serangan bom itu, baik bom bunuh diri maupun bom mobil, memberikan gambaran jelas akan kondisi rapuh keamanan dalam negeri Turki. Ada banyak sebab yang menjadi lantaran memburuknya keamanan di Turki, baik sebab domestik maupun internasional.
Masalah keamanan dalam negeri Turki berkait dengan terorisme. Berbicara tentang terorisme di Turki, biasanya berkait dengan kelompok etnis Kurdi. Selama ini, mereka selalu yang dituding—atau mengklaim sendiri—sebagai pelaku serangan bom. Misalnya, serangan bom yang terjadi pada bulan Maret lalu di Ankara dilakukan oleh jaringan kelompok Partai Pekerja Kurdi (PKK).
Catatan lama memberikan gambaran betapa dahsyatnya serangan terorisme itu. Berdasarkan laporan khusus tentang terorisme di Turki tahun 2003, serangan teror yang terjadi tahun 1984-2000 diperkirakan menewaskan 30.000 hingga 35.000 orang!
Sekarang ini kondisi Turki lebih pelik lagi, setelah pecah perang di Suriah sejak lima tahun silam. Turki menanggung beban akibat perang, antara lain menerima banjir pengungsi serta menjadi jalan masuk dan keluar kelompok-kelompok radikal, militan, dan teroris ke dan dari Suriah. Pada saat yang sama, Turki masih harus menghadapi kelompok Kurdi yang sudah puluhan tahun menjadi problem keamanan negara itu. Masalah pengungsi ini yang menyebabkan kurang baiknya hubungan Turki dengan negara-negara Eropa akhir-akhir ini.
Selama perang di Suriah belum selesai, Turki akan terus ikut merasakan akibat dari perang itu. Perbatasan dengan Suriah yang terbuka memungkinkan Turki menjadi jalur masuk dan keluar berbagai kelompok bersenjata, penyelundupan senjata, banjir pengungsi, problem dengan Kurdi, problem ekonomi dan politik.
Semua itu menjadi persoalan besar bagi Turki sekarang dan di masa depan. Turki membutuhkan kerja sama dengan negara lain, misalnya negara-negara Uni Eropa, untuk mengatasi ekstremisme, terorisme, dan juga pengungsi yang membebani antara lain perekonomiannya.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 Juni 2016, di halaman 6 dengan judul "Turki Tidak Bisa Berjalan Sendiri".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar