Saya baru saja kembali dari Kamboja dan tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada 22 Oktober 2016. Meskipun sudah banyak hal dibenahi dan Bandara Soekarno-Hatta jauh lebih nyaman sekarang, saya masih merasakan beberapa ketertinggalan dibandingkan dengan layanan yang saya rasakan di bandara di Phnom Penh.
Sebagai salah satu contoh, petugas imigrasi di bandara di Phnom Penh ramah dan melayani dengan senyuman. Sebaliknya, di Bandara Soekarno-Hatta, petugas imigrasi umumnya berekspresi dingin dan datar. Semula saya pikir mungkin semua petugas imigrasi harus bersikap tegas dan datar, tetapi ternyata di Phnom Penh tidak.
Demikian pula halnya dengan pengurusan bagasi. Saya hanya menunggu 15 menit untuk mengambil bagasi setelah selesai dari imigrasi di Phnom Penh. Sementara di Bandara Soekarno-Hatta, saya menunggu sampai 45 menit. Hal ini tidak hanya saya alami satu kali, tetapi berulang kali.
Saya berharap pengelola Bandara Soekarno-Hatta dan petugas terkait segera berbenah agar Indonesia makin maju, tidak tertinggal dari Kamboja ataupun negara lain.
SIGIT SULISTYO, JALAN SUKUN, DEPOK 16421
Mebel Rusak
Pada Februari 2015, saya memesan satu set meja makan, coffee table, dan sofa di Rosewood Living Furniture cabang Central Park, dengan membayar lunas dan janji tiga bulan pembuatan.
Akhir Juli 2015 barang dikirim. Setelah dipakai dua bulan, beberapa kursi meja makan mulai goyang dan makin lama makin parah. Saya melapor ke layanan pelanggan dan teknisi Rosewood datang. Ia menyatakan akan mengganti kursi makan itu dan butuh waktu tiga bulan lagi untuk pembuatan. Janji dikirim 9 Desember 2015.
Sampai Januari 2016, barang tak kunjung datang. Ternyata kursi tidak dibuat karena bahan lagi kosong. Lalu saya ditawari menggunakan bahan lain. Akhirnya saya setuju mengganti bahan dan model kursi. Lagi-lagi saya harus menunggu tiga bulan.
Tiga bulan kemudian, April, saya menelepon menanyakan status pengiriman kursi. Ternyata layanan pelanggan Rosewood dan bagian produksi tak tahu soal penggantian kursi ini dan berjanji menyelesaikan masalah ini.
Sebulan kemudian saya menelepon kembali, lagi-lagi mereka belum memproduksi kursi seperti yang dijanjikan. Mereka meminta saya memberi model kursi dan tipe warna kain yang saya pilih, padahal semua info berkali-kali saya berikan.
Setelah saya memberi model kursi dan bahan, sehari kemudian, ajaib, kursi saya dikirim. Awalnya saya senang karena sudah menunggu delapan bulan. Namun, tiga hari kemudian jok kursi mulai sobek, benangnya keluar dan busa kursi kempes. Bahkan kain terlepas dari rangka kursi dan besi staples yang tajam mencuat ke mana-mana.
Saya menghubungi Sdr Wildan, petugas layanan pelanggan di Central Park dan dia berjanji akan menyelesaikan masalah ini. Sekarang, lima bulan kemudian, setelah bolak-balik menghubungi layanan pelanggan dari Rosewood, tidak ada tindak lanjut.
Saya minta pertanggungjawaban Rosewood karena sudah menunggu lebih dari setahun urusan tidak juga selesai. Apalagi harga produk Rosewood mahal.
ROSALINA CHANDRAWATI, JALAN JANUR ELOK VI, KELAPA GADING, JAKARTA UTARA 14240
Lomba Kompetensi
Membaca berita foto di Kompas (26/10) halaman 11, saya menjadi prihatin. Dalam foto tampak peserta lomba kompetensi siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) sedang menyelesaikan pembuatan jam digital.
Dalam mengerjakan praktik elektronika, selalu ada soldering atau mematri dengan timah. Pada proses itu, terjadi perubahan fasa timah dari padat ke cair dan gas. Seperti diketahui, gas logam berbahaya untuk pernapasan.
Maka pada kesempatan ini, saya mengusulkan pemakaian kipas pengisap gas/uap (exhaust) dalam kegiatansoldering, pengelasan/welding, ataupun praktik masak di SMK karena ada uap minyak. Itu dilakukan demi menjaga kesehatan paru-paru siswa.
ALI IMAM, ALUMNUS FK-UB MALANG, BUKIT CEMARA TUJUH BLOK VII, TLOGOMAS, MALANG
Tanggapan Bank Mega
Menanggapi surat Bapak Nunu Waspodo di Kompas (22/10) berjudul "Penagih Utang", kami telah mengunjungi yang bersangkutan untuk menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang telah dialami pada 24 Oktober 2016.
Pada kesempatan itu, kami juga menyampaikan penjelasan terkait keluhan Bapak Nunu.
CHRISTIANA M DAMANIK, CORPORATE SECRETARY PT BANK MEGA TBK
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 November 2016, di halaman 7 dengan judul "Surat Kepada Redaksi".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar