Fenomena terjadinya beberapa kasus investasi yang gagal atau bahkan investasi bodong, menyebabkan masih banyak sebagian masyarakat yang tidak percaya dengan investasi di aset likuid. Secara umum, kepercayaan masyarakat masih berada pada aset yang riil alias berbentuk aset fisik. Meski demikian, sebagian masyarakat masih memiliki pemahaman bahwa investasi di produk keuangan atau surat berharga, seperti reksa dana, Obligasi Ritel Indonesia (ORI), atau saham bukan pilihan yang baik.
Jika Anda juga memilih untuk tidak berinvestasi di aset likuid memang sah saja. Namun, pahami juga bahwa saat penghasilan dari bekerja produktif mulai menurun, memiliki portofolio aset yang tidak seimbang dapat menyebabkan terhambatnya pencapaian berbagai tujuan keuangan di masa depan.
Sebagai contoh, ada sebuah keluarga yang pernah saya temui menemukan kesulitan saat kepala keluarga mengalami pemutusan hubungan kerja. Satu atau dua tahun setelah tidak lagi menerima penghasilan secara aktif, keluarga tersebut masih dapat memenuhi standar gaya hidup dari saldo tabungan dan deposito. Namun, saat saldonya mulai menipis, tentu pilihannya adalah menjual aset yang telah dimiliki. Siapa nyana, menjual tanah dalam kondisi ekonomi sekarang ternyata sulit sekali. Aset properti pun kadang kesulitan menemukan penyewa karena banyak bertebaran properti-properti lain yang lebih baru. Jika mau dijual, tidak juga menemukan pembeli yang cocok dalam waktu singkat. Akhirnya, keluarga memiliki nilai aset investasi yang besar, tetapi tidak bisa untuk membeli keperluan hidup utama.
Sehingga kata kuncinya adalah keluarga perlu memiliki rasio likuiditas yang ideal. Likuiditas adalah tingkat kelancaran atau kemudahan suatu harta menjadi uang tunai. Ya, bagaimana lagi, uang tunai, kan, memang menjadi satuan nilai tukar. Terkecuali pasar swalayan dapat menerima emas atau tanah sebagai alat pembayaran, saya rasa hingga sekarang istilah "cash is king" memang masih relevan.
Jika kekayaan adalah harta yang telah benar-benar dimiliki, kaya adalah suatu kondisi di mana kita merasa telah mencapai hidup yang indah dan sejahtera. Jumlah uang memang bukan ukuran dalam mencapai kebahagiaan, tetapi setiap orang membutuhkan uang untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup. Karena itu, menjadi kaya bukanlah tujuan utama dalam perencanaan keuangan. Namun, menjalani hidup yang indah dan sejahtera merupakan tujuan akhirnya. Saya menyebutnya dengan istilah "tetap kaya".
Tetap kaya adalah suatu kondisi di mana seseorang sanggup membiayai segala pengeluaran hidup yang rutin, tanpa harus bergantung dari gaji bulanan. Sehingga jika seseorang kehilangan sumber penghasilan, maka aset simpanan dan investasi yang dimiliki dapat menutup biaya hidup rutin tanpa menurunkan standar hidup.
Apa pun profil risiko seorang investor, alokasi aset investasi antara aset likuid dan aset tidak likuid sebaiknya seimbang. Aset likuid yang dimaksud tidak terbatas tabungan dan deposito semata. Kepemilikan saham, ORI, emas batangan, dan reksa dana termasuk di dalamnya. Sedikit catatan, perhiasan emas tidak dimasukkan dalam kategori aset investasi yang likuid. Alasannya, perhiasan emas akan dihargai berbeda-beda oleh toko emas alias tidak ada standar yang baku layaknya emas batangan. Karena itu, belum tentu harga jualnya sesuai dengan yang diinginkan.
Durasi manfaat aset likuid
Seseorang perlu mengetahui berapa jumlah tabungan dan simpanan yang ada saat ini. Berikutnya, tambahkan jumlah harta likuid dengan pemasukan dari bunga, sewa, atau lainnya, pokoknya selain gaji atau bonus dari pekerjaan rutin. Lalu, jumlahnya dibagi dengan besaran pengeluaran rutin per bulan. Hasilnya merupakan durasi Anda bisa tetap kaya atau menikmati standar hidup seperti saat ini.
Sebagai contoh, seorang karyawan setiap bulan memiliki pengeluaran rutin sebesar Rp 15 juta. Saat ini, karyawan tersebut memiliki aset apartemen senilai Rp 750 juta, yang disewakan dengan pemasukan Rp 4 juta per bulan. Selain itu, karyawan juga memiliki simpanan dana di deposito sebesar Rp 150 juta dan memiliki aset investasi di reksa dana saham sebesar Rp 100 juta.
Meskipun karyawan tersebut memiliki kekayaan investasi sebesar Rp 1 miliar, tetapi rasio likuiditasnya hanya selama 17 bulan. Artinya, bilamana tidak lagi ada penghasilan, jumlah aset likuid yang dimiliki hanya mampu untuk memberi penghidupan selama 17 bulan ke depan. Hal ini disebabkan alokasi investasinya adalah 25 persen di aset likuid dan 75 persen di aset tidak likuid.
Kesimpulannya, aset likuid memang sebaiknya dimiliki dalam portofolio investasi dengan porsi yang seimbang. Komposisinya harus sesuai dengan profil risiko dan apa tujuan investasi investor. Pahami, kekayaan yang dikumpulkan bukan untuk ditimbun, melainkan untuk digunakan suatu hari agar hidup tetap indah dan sejahtera. Semoga bermanfaat. Live a beautiful life!
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 November 2016, di halaman 25 dengan judul "Pentingnya Punya Aset Likuid".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar