Cari Blog Ini

Bidvertiser

Sabtu, 12 November 2016

PSIKOLOGI: Cinta dan Relasi Kuasa (KRISTI POERWANDARI)

Belum lama ini saya hadir dalam pertemuan yang membahas persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Salah satu pembicara memberikan ilustrasi kasus yang menjelaskan bahwa kekerasan dalam hubungan personal terjadi akibat relasi kuasa yang tidak imbang. Katanya, "Ingat, yang seperti ini bukan cinta, tetapi relasi kuasa."

Sayang sekali, dalam kenyataannya, dalam cinta sangat mungkin hadir relasi kuasa. Salah satu pihak menjadi sosok yang lebih dominan, mengatur, menjadi acuan dalam menetapkan benar-salah, dan mengambil keputusan. Pihak yang lain jadi yang diatur, dipersalahkan, harus banyak menyesuaikan diri, menahan beban perasaan, dan dikalahkan kepentingannya.

Relasi kuasa

Meski tidak selalu, cukup sering perempuan menjadi pihak yang dikalahkan kepentingannya, dituntut menyesuaikan diri, dan dipersalahkan. Istri mungkin sama-sama mencari nafkah, tetapi tidak memperoleh dukungan untuk bermitra dalam pekerjaan rumah. Istri tetap dituntut untuk sepenuhnya mengurus anak, membereskan rumah, dan memastikan semua kebutuhan suami terpenuhi. Ketika ada persoalan, ia yang dipersalahkan karena dianggap tidak dapat membagi waktu dengan baik, atau tidak peduli pada keluarga.

Dalam kasus-kasus tertentu, khususnya terkait seks, perempuan dapat dimanipulasi dan dieksploitasi. Konstruksi masyarakat yang menuntut perempuan (laki-laki tidak dituntut demikian) untuk menjaga "keperawanan" dan "kesucian" menyebabkan perempuan yang sudah telanjur berhubungan seks sebelum pernikahan melorot nilainya di mata sebagian orang.

Penelitian kami menggunakan data pemeriksaan psikologi di kepolisian resor menemukan bahwa tersangka pelaku kekerasan seksual dalam relasi pacaran umumnya merasa tidak bersalah telah memaksakan hubungan seksual. Mereka menganggap pasangannya (pasti) bukan perempuan baik-baik karena sebelumnya sudah (mau diajak) berhubungan seksual. Standar ganda seksualitas memang nyata. Data kasus memperlihatkan bahwa sekali telah terjadi hubungan seksual, lebih besar kemungkinannya pasangan akan "taking for granted", menggampangkan dan kurang menghormati sang perempuan.

Menginternalisasi pandangan di atas, sang perempuan juga merasa tidak aman, sulit berbangga diri lagi, merasa tidak bernilai, bingung, dalam keadaan serba salah. Ia takut ditinggalkan (bagaimana bila hamil?) atau khawatir dipersalahkan keluarga dan makin hancur nama baiknya. Cukup sering pacar mengancam akan menyebarluaskan cerita mereka sudah melakukan apa saja, apalagi bila ada foto-foto dan video yang pasti akan makin mempermalukan. Akhirnya, ia bersedia melakukan apa saja, dan makin terpuruk dalam relasi kuasa yang menempatkannya dalam posisi dieksploitasi.

Kekerasan tidak selalu terjadi akibat pelaku ingin mendominasi. Kadang kekerasan merupakan ekspresi frustrasi, ketika salah satu pihak sudah tak mampu mengendalikan diri akibat telah mencoba menahan diri lama, untuk perlakuan atau sikap yang dianggapnya tidak adil, merendahkan atau sangat melukai harga diri.

Ekspresi frustrasi

Saya selalu ingat satu kasus yang saya temui di lembaga pemasyarakatan (lapas). Seorang lelaki muda, 22 tahun, yang memiliki niat baik, tetapi mungkin belum berpikir secara matang. Karena telanjur berhubungan terlalu jauh dan merasa berdosa, ia mengajak pacarnya menikah. Sayang sebelum menikah ia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai penjaga gerai telepon genggam, dipikirnya ia akan mudah mencari pekerjaan baru. Ternyata tidak demikian halnya.

Jadilah ia menikah tanpa pekerjaan, mencoba menahan diri mendengar kata-kata mertua dan istri yang merendahkan. Merasa tidak enak hati harus hidup menumpang, dengan rajin setiap pagi ia membereskan pekerjaan-pekerjaan domestik, seperti membersihkan rumah dan memasak. Suatu pagi ia mendengar istrinya bertelepon "sayang-sayangan" dengan seorang lelaki, ia mencoba menenangkan gejolak hati dengan mandi. Keluar dari kamar mandi, ia masih mendengar istrinya mesra bertelepon. Ia pun dengan penuh marah dan frustrasi mengambil motor, niatnya mau pergi saja. Istrinya mengejar dan berteriak: "Lu itu siapa, cuma numpang di rumah gue!"

Emosi bereskalasi. Jadilah tak terkendali ia menarik istrinya ke dapur, mengambil ulekan yang sebelumnya dipakainya untuk membuat sambal, dan memukul berkali-kali ke kepala istrinya. Ia baru tersadar akan tindakannya sendiri setelah istrinya lemas.

Istrinya meninggal, ia dihukum 12 tahun. Ia sangat shock dengan yang terjadi, mengaku sebelumnya sama sekali tidak pernah melakukan kekasaran fisik pada istri, tetapi kenyataannya telah membuat istrinya mati saat usia perkawinan mereka baru berusia 4 bulan. Ketika kami menemui di lapas, ia terlihat depresif, dan menulis berulang "saya pembunuh istri", sama sekali tidak ada sikap defensif dan pembelaan diri.

Dalam cinta mungkin ada relasi kuasa. Ada yang mendominasi, merendahkan, mengatur, menetapkan kata akhir, memanfaatkan keberadaan pasangan untuk kesenangan dirinya sendiri saja. Tak peduli atau malah sengaja membuat pasangan hidupnya menderita. Namun, kita perlu ingat, frustrasi dari pihak yang berada di bawah dan diperlakukan buruk kadang juga pecah menjadi perilaku tak terkendali.

Persoalan kekerasan dalam relasi personal secara sosial struktural perlu ditanggulangi dengan berbagai kebijakan, aturan hukum, dan penyediaan lembaga-lembaga layanan. Bagaimanapun, penanganan psikologi sangat penting untuk hadir melengkapi yang sosial-struktural. Ini karena tampilan cinta dan relasi kuasa secara psikologis jauh lebih kompleks, lebih mengakar, lebih sulit diurai, kadang tak disadari, sehingga memerlukan intervensi yang intensif.

Pasangan perlu membangun pola relasi yang baru. Mungkin harus bekerja sangat keras menghapus ingatan-ingatan masa kanak. Menggantinya dengan cara baru yang tidak meributkan soal siapa lebih tinggi dan lebih rendah, siapa benar siapa salah, untuk tidak mengulang kesalahan ayah-ibu dan orang-orang dewasa pendahulu.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 November 2016, di halaman 25 dengan judul "Cinta dan Relasi Kuasa".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger