Cari Blog Ini

Bidvertiser

Senin, 14 November 2016

TAJUK RENCANA: Merawat Keindonesiaan (Kompas)

Akhir-akhir ini, langkah perjalanan bangsa seakan mundur. Seiring meningginya suhu politik menjelang pilkada, persoalan SARA mencuat kuat.

Perbincangan sengit soal suku, agama, ras, dan antargolongan di antara sesama anak bangsa mengemuka di dunia nyata ataupun maya. Pada saat bangsa-bangsa lain di dunia berlomba membangun peradaban hingga dasar samudra bahkan luar angkasa, kesatupaduan kita sebagai satu bangsa malah terseret kembali ke arah keterbelahan.

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang dicengkeram kuat kaki burung Garuda jelas menunjukkan bahwa hidup dalam keberagaman sudah diwariskan berabad-abad di Nusantara; sebuah keniscayaan.Beragamnya nisan para pahlawan yang belum lama ini kita peringati jasanya juga menjadi bukti sejarah kontemporer.

Termutakhir, Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir yang membacakan naskah Sumpah Pemuda di halaman Istana Merdeka pada 28 Oktober lalu juga menunjukkan contoh bahwa keberagaman bangsa bisa menjadi kekuatan. Pasangan ganda campuran yang berbeda suku, agama, ras, dan antargolongan ini mampu menganugerahi medali emas satu-satunya untuk negeri ini di Olimpiade Rio 2016.

Oleh karena itu, konsolidasi kenegaraan yang dilakukan Presiden Joko Widodo bersama-sama sejumlah tokoh politik dan agama patut diapresiasi. Selaku kepala negara, Presiden Jokowi mengingatkan seluruh anak negeri bahwa keberagaman bangsa ini semestinya dipandang sebagai anugerah dan tidak menjadi sumber perpecahan.

Selaku panglima tertinggi, Presiden Jokowi juga menginstruksikan segenap anggota Polri dan prajurit TNI agar waspada dari berbagai upaya memecah belah bangsa. "Saya ingin memastikan bahwa semua loyal kepada negara, Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan RI, dan kebinekaan kita," kata Presiden (Kompas, 11/11).

Untuk merawat keindonesiaan, Bung Hatta sebagai salah seorang pendiri bangsa kerap mengingatkan, kita ini turunan bangsa besar, yang sejarahnya gilang-gemilang pada masa dahulu, dan kini harus menebusnya kembali.

"Syarat pertama untuk menjadi satu bangsa yang merdeka ialah keinsafan bahwa kita adalah suatu bangsa yang bersatu padu, yaitu bangsa Indonesia, yang bertanah air Indonesia. Lenyaplah dalam hati perasaan termasuk ke dalam satu golongan kecil yang mempunyai kepentingan sendiri. Kepentingan semuanya harus didahulukan daripada kepentingan sebagian-sebagian," kata Bung Hatta (Juni 1945).

Bagi para aktor politik, kini saatnya juga merenungkan pesan James Freeman Clarke (1810-1888). Politisi hanya memikirkan pemilihan yang akan datang, sedangkan negarawan memikirkan generasi yang akan datang.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 November 2016, di halaman 6 dengan judul "Merawat Keindonesiaan".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger