Semangat juang, pengabdian, dan pengorbanan, yang merupakan ciri kepahlawanan, tidak hanya dibutuhkan di medan perang untuk melawan musuh, tetapi juga untuk menggapai kemajuan. Atas dasar itu, peringatan Hari Pahlawan, yang jatuh setiap tanggal 10 November, tidak hanya bertujuan untuk mengingat kembali jasa pahlawan, tetapi sekaligus membangkitkan semangat heroik untuk mendorong pembangunan.
Tentu saja pembicaraan tentang revitalisasi dan aktualisasi semangat kepahlawanan lebih gampang dilakukan pada zaman perang. Hal ini terutama karena kepahlawanan dari riwayatnya memang lebih diasosiasikan dengan semangat melawan musuh bangsa dan negara. Pahlawan merupakan sebutan kehormatan dan penghormatan bagi orang-orang yang mengabdi bagi kepentingan umum, rela berkorban, dan siap mempertaruhkan harta paling berharga dan tak tergantikan, yaitu nyawa.
Pengorbanan pahlawan tentu tidak ada artinya apabila semangat perjuangan dan pengorbanan mereka tidak dipertahankan, dipelihara, dan terus dikobarkan. Sekalipun kerelaan mempertaruhkan nyawa tidak diperlukan dalam zaman damai, semangat heroik yang menekankan pengabdian, pengorbanan, dan perjuangan sangatlah diperlukan dalam mendorong kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kehidupan yang lebih demokratis.
Perlu dikemukakan pula, jasa pahlawan yang melahirkan kemerdekaan sangatlah penting, tetapi tidak kalah penting bagaimana mengisi kemerdekaan dengan kesejahteraan yang berkeadilan. Tantangan mengisi kemerdekaan tidaklah kecil seperti terlihat pada semangat pengorbanan dan pengabdian yang diperlihatkan pahlawan dalam sejarah bangsa, tetapi cenderung memudar di tengah pergolakan zaman.
Semangat berkorban dan saling membantu, terutama untuk kaum lemah dan tertinggal, semakin tergerus oleh semangat mementingkan diri sendiri dan kelompok yang berlebihan di tengah zaman yang terus berubah. Sendi- sendi kehidupan berbangsa dan bernegara terguncang oleh perubahan zaman. Perkembangan teknologi tidak hanya membawa kemajuan, tetapi juga kekacauan, technology disruption, digital disruption.
Media sosial tidak hanya menjadi instrumen yang efisien dan efektif untuk menyebarkan nilai dan budaya unggul, tetapi tidak jarang pula menjadi sumber kekacauan, yang menciptakan disorientasi nilai heroik, seperti pengorbanan, pembelaan kepentingan bersama dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar