Cari Blog Ini

Bidvertiser

Sabtu, 12 November 2016

TAJUK RENCANA: Trump dan Pertumbuhan Ekonomi (Kompas)

Kemenangan Donald Trump dalam pemilu presiden di AS memunculkan ketidakpastian baru ekonomi global, yang juga berimbas ke ekonomi Indonesia.

Kebijakan proteksionisme yang diusung Trump, dan rencana Trump meninjau ulang semua perjanjian dagang dengan sejumlah negara, termasuk Tiongkok, bisa mengancam prospek pertumbuhan perdagangan global dan pada gilirannya pertumbuhan ekonomi dunia. Pemenang Nobel Ekonomi Paul Krugman bahkan mengingatkan risiko resesi global akibat kebijakan AS di bawah rezim Trump.

Meski terbuka kemungkinan Trump menempuh garis kebijakan yang berbeda dengan retorika saat kampanye, kita tetap harus mengantisipasi. Hal ini bukan hanya karena AS dan Tiongkok dua perekonomian terbesar dunia, melainkan juga mitra dagang dan investor penting Indonesia.

Prediksi pertumbuhan Indonesia yang membaik pada 2017 belum memasukkan faktor Trump. Sebelumnya, Bank Dunia memprediksi pertumbuhan Indonesia 5,1 persen pada 2016 dan 5,3 persen 2017, sementara proyeksi IMF 4,9 persen pada 2016 dan 5,3 persen 2017. Pemerintah (Menko Perekonomian) sendiri meyakini PDB Indonesia tumbuh 5,2 persen-5,4 persen pada 2017, atau di atas target 5,1 persen.

Situasi eksternal yang penuh ketidakpastian ini tampaknya sudah diantisipasi pemerintah. Menkeu Sri Mulyani menegaskan, pemerintah akan fokus pada sumber pertumbuhan di dalam negeri. Tahun ini, kendati rata-rata pertumbuhan tiga triwulan pertama masih di atas 5 persen, terjadi perlambatan pada semua komponen penting pertumbuhan domestik, yakni belanja pemerintah, investasi, konsumsi domestik, dan ekspor, pada triwulan III.

Dari sisi domestik, dalam beberapa hal, posisi kita tahun depan lebih baik dibandingkan tahun ini. Indonesia akan tertolong oleh mulai dirasakannya dampak pembangunan proyek infrastruktur masif dan implementasi paket kebijakan deregulasi ekonomi dua tahun terakhir. Membaiknya basis pajak sejalan keberhasilan program amnesti pajak diperkirakan juga akan memperbaiki banyak struktur penerimaan pajak tahun depan.

Proyek infrastruktur yang masih akan digenjot pemerintah juga menggerakkan investasi swasta. Pilkada yang dilaksanakan serentak pada Februari 2017 akan menggerakkan ekonomi. Dari sisi perdagangan, efek kebijakan Trump membuat kita tak bisa berharap pada ekspor.

Dari sisi investasi, investor masih wait and see dengan kebijakan Trump, tetapi prospek masuknya dana asing ke Indonesia tetap besar, terutama dengan imbal hasil atraktif di tengah derasnya arus dana global ke emerging marketsdan stabilnya pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pemerintah juga harus fokus menggenjot daya beli masyarakat dengan prioritas sektor-sektor yang menciptakan lapangan kerja karena konsumsi menyumbang 56 persen perekonomian domestik. Pembenahan sisi suplai atau produksi juga harus dipacu, termasuk dengan mempercepat realisasi implementasi paket ekonomi. Prinsipnya, kebijakan yang pro pertumbuhan dan ramah investasi.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 November 2016, di halaman 6 dengan judul "Trump dan Pertumbuhan Ekonomi".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger