Cari Blog Ini

Bidvertiser

Sabtu, 08 Juli 2017

Kesepakatan Paris Tanpa AS (EDVIN ALDRIAN)

Seperti diduga dan sesuai janji kampanye, pada 1 Juni 2017 Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pengunduran diri AS dari Kesepakatan Paris, kesepakatan mengurangi emisi global guna mengatasi masalah perubahan iklim.

Keputusan itu dikecam luas dan dikritik tajam di dalam negeri ataupun di negara lain. Pernyataan Trump bahwa ia mewakili penduduk Pittsburgh dan bukan Paris sungguh tak relevan karena dampak perubahan iklim bersifat global dan tak ada suatu kawasan yang tak rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dan Badan Atmosfer dan Kelautan Nasional AS ( NOAA) menyatakan bahwa dari hanya 16 tahun di awal abad ke-21 ini, 15 di antaranya adalah rekor tahun terpanas. Kenaikan panas bumi adalah gejala perubahan iklim. Gejala lain ialah timbulnya siklon tropis skala tinggi hingga turunnya hujan es di wilayah tropis seperti Indonesia.

Para ilmuwan telah menemukan ratusan gejala perubahan sebagai akibat langsung ataupun tak langsung: perubahan migrasi burung dan perubahan pola tangkapan ikan di laut. Perubahan iklim disebabkan oleh pemanasan global akibat meningkatnya gas rumah kaca sehingga menaikkan suhu di lapisan atmosfer muka bumi. Penyebab meningkatnya gas rumah kaca terutama adalah gas buang hasil pembakaran pembangkit energi dan industri dari sumber energi fosil.

Gas rumah kaca yang meningkat itu celakanya memiliki waktu hidup di atmosfer hingga 1,5 abad dan selama itu akan terus akumulatif meningkatkan suhu bumi. Jadi, penambahan emisi akan berdampak pada beberapa generasi. Demikian pula pengurangan emisi akan berdampak pada pengurangan beban pada beberapa generasi.

Untuk mengatasi hal ini, PBB dengan bidan WMO dan Program Lingkungan PBB (UNEP) melahirkan Panel Ahli Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) pada 1979 dan Kerangka Kerja Konvensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) pada 1988. IPCC merupakan badan PBB mengenai ilmu perubahan iklim dan UNFCCC merupakan badan PBB tentang kebijakan perubahan iklim.

IPCC menelurkan laporan kajian perubahan iklim secara periodik; saat ini sedang dalam periode kajian keenam. Kajian pertama IPCC menghasilkan rekomendasi pembentukan UNFCCC. Kajian kedua menghasilkan Protokol Kyoto. Kajian keempat dianugerahi Nobel Perdamaian 2007. Kajian kelima menelurkan Kesepakatan Paris.

Tiga pesan utama dari kajian kelima IPCC adalah (1) pengaruh manusia terhadap sistem iklim adalah nyata, (2) semakin kita mengganggu sistem iklim, semakin parah risiko yang kita hadapi, nyata dan tidak dapat dipulihkan, dan (3) kita masih memiliki kesempatan menahan perubahan iklim dengan pembangunan yang berkelanjutan.

Perbedaan utama antara rezim Protokol Kyoto yang lahir pada 1997 dan Kesepakatan Paris yang lahir pada 2015 menyangkut beberapa hal. Protokol Kyoto menaruh target pada pengurangan emisi mengacu pada kondisi emisi tahun 1990 di setiap negara, sedangkan Kesepakatan Paris memperbolehkan peningkatan emisi dan mengharapkan terjadinya kesetimbangan emisi dan penyerapan pada 2050 yang dilalui dengan program kontribusi nasional yang bersifat partisipatif dan sukarela. Hasil kontribusi nasional itu akan dievaluasi setiap lima tahun, dimulai pada 2018, dan diharapkan berkembang dengan kontribusi baru.

Era Obama

Sejak awal AS adalah negara non-Protokol Kyoto, tetapi turut aktif dalam setiap perundingan UNFCCC. Pada 2016 dalam pemerintahan Presiden Barack Obama, negara "Abang Sam" ini telah meratifikasi Kesepakatan Paris. Sumbangan emisi AS sebagai emiter nomor 2 dunia terhadap emisi global adalah sekitar 15 persen saat ini. Jumlah tersebut menurun beberapa tahun terakhir setelah terjadi perbaikan dalam sektor energi, dengan pengurangan energi batubara.

Keluarnya AS dari Kesepakatan Paris serupa dengan rezim Protokol Kyoto ketika AS berada di luar kesepakatan multilateral. Dalam pidatonya, Trump menyebut kewajiban menyumbang Dana Iklim Hijau sebagai salah satunya. Alasan komitmen Kesepakatan Paris akan mengganggu lapangan kerja AS sukar diterima karena lahan kerja di bidang energi bersih terbuka luas. Besar kemungkinan AS sulit menerima kesepakatan teknologi transfer dan lost and damage,ketika negara emiter historis atau terdahulu diwajibkan memberi kompensasi kepada negara korban perubahan iklim. AS dianggap sebagai negara industri awal sehingga memiliki komitmen historis dalam hal ini.

Kesulitan baru yang dirasakan, terutama bagi IPCC, adalah menurunnya kontribusi AS terhadap riset perubahan iklim. Saat ini ilmuwan Amerika merajai riset perubahan iklim. Dengan dana riset yang besar dan didukung oleh fasilitas memadai, AS selalu pegang kunci dalam hal riset utama perubahan iklim.

Sebagai contoh adalah referensi pengukuran gas rumah kaca di Mauna Loa, Hawaii, dan referensi gas ukur dari Boulder, Colorado. Selain itu, data model perubahan iklim selama ini juga didukung kampus Ohio di AS.

Kampus Ohio juga menampung sebagian besar hasil eksplorasi es purba yang menjadi referensi riset perubahan iklim. Maka, Presiden Perancis Emmanuel Macron menawarkan ilmuwan perubahan iklim AS eksodus ke Perancis.

Hampir seluruh dunia percaya bahwa perubahan iklim benar terjadi. Sekitar 97 persen ilmuwan dunia juga memercayainya. Hingga saat ini tidak ada planet lain yang layak didiami manusia. Kalaupun ada, dibutuhkan ratusan tahun untuk menjelajahinya. Inovasi dalam hal energi terbarukan dan industri hijau akan menciptakan banyak lahan pekerjaan baru bagi rakyat AS dan dunia.

Kita berutang kepada generasi mendatang, untuk anak dan cucu kita, suatu bumi yang sama nyamannya bagi kita dan bagi mereka. Terlebih apabila mengingat emisi gas rumah kaca yang dihasilkan berupa gas rumah kaca yang melayang-layang di atmosfer hingga ratusan tahun dan membawa dampak hingga beberapa generasi mendatang. Adalah kewajiban kita bersama secara komunal melestarikan bumi ini sehingga layak huni dan berkelanjutan. Marilah membuat perubahan itu.

EDVIN ALDRIAN

Profesor Riset Meteorologi dan Klimatologi BPPT

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Juli 2017, di halaman 7 dengan judul "Kesepakatan Paris Tanpa AS".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger