
Pekerja mengerjakan konstruksi dermaga utama Jembatan Sungai Hutong Yangtze, di Nantong, Provinsi Jiangsu, China, Rabu (8/11). Jembatan Sungai Hutong Yangtze sepanjang 11.072 meter mulai dibangun Maret 2014. Jembatan ini merupakan jembatan kabel terpanjang di dunia, yang memungkinkan penggunaan ganda, dengan rel di lapisan bawah dan jalan raya di atas.
China mencatat pertumbuhan PDB 6,9 persen di tiga triwulan pertama 2017 dan untuk keseluruhan 2017 diprediksi 6,8 persen. Ini di atas target pemerintah yang 6,5 persen.
Untuk 2018, belum ada kesepakatan dari kalangan analis atau lembaga. Sebagian memprediksikan perlambatan pertumbuhan, sebagian lain meramalkan sebaliknya. Pertumbuhan di atas ekspektasi ini ditopang investasi infrastruktur dan real estat serta konsumsi domestik dan membaiknya permintaan dunia.
Faktor utama penyumbang pertumbuhan masih sektor perdagangan, dengan melonjaknya ekspor dan impor hingga 14,2 persen year on year, sejalan membaiknya ekonomi AS dan Uni Eropa. Pada kuartal IV-2017 (angkanya akan diumumkan Kamis), perekonomian sedikit melambat dibandingkan tiga kuartal sebelumnya, sebagai dampak kebijakan pemerintah meredam risiko finansial dan utang yang membengkak, selain menekan polusi lingkungan dengan mengerem aktivitas industri.
Kalangan yang memprediksikan perekonomian China 2018 tetap menguat mendasarkan ramalannya pada argumen bahwa pada 2017 China berhasil membangun titik pijak lebih kuat, selain momentum permintaan global yang akan tetap kuat pada 2018. Sebaliknya, lembaga seperti Bank Pembangunan Asia (ADB) memprediksikan perlambatan tajam ekonomi China pada 2018 ke level 6,4 persen, di bawah target pemerintah yang 6,5 persen, atau terendah sejak 1990. Pemicunya, perlambatan penjualan properti dan sektor konstruksi, selain penurunan investasi infrastruktur, sejalan pengetatan pendanaan dari pemerintah.
PM China Li Keqiang mengatakan, pertumbuhan di atas ekspektasi pada 2017 terjadi lebih sebagai dampak dari upaya pemerintah menciptakan sumber-sumber baru pertumbuhan ekonomi ketimbang membanjiri perekonomian dengan berbagai stimulus seperti sebelumnya. Yang dilakukan pemerintah saat ini adalah berusaha menciptakan keseimbangan dari perekonomian yang sebelumnya sangat bergantung pada ekspor dan investasi negara ke model pertumbuhan yang lebih bertumpu pada konsumsi domestik agar lebih berkesinambungan.
Pertumbuhan perekonomian terbesar kedua di dunia ini akan berdampak langsung dan tak langsung ke perekonomian global dan negara-negara berkembang Asia, termasuk Indonesia, mengingat besarnya keterkaitan, khususnya dari sisi perdagangan. Menguatnya harga dan permintaan komoditas primer dari negara berkembang akhir-akhir ini terutama juga dipicu meningkatnya permintaan dari China.
Membaiknya ekspor, khususnya komoditas, juga menjadi salah satu faktor penopang membaiknya pertumbuhan ekonomi negara berkembang Asia, selain menguatnya konsumsi domestik.
Sejalan dengan perkiraan melambatnya ekonomi China pada 2018, perekonomian kawasan Asia diprediksikan oleh ADB juga sedikit melambat ke 5,8 persen pada 2018, dari 6 persen (2017).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar