Pasukan Presiden Bashar al-Assad terus membombardir dan merebut kota basis pemberontak di Ghouta Timur, Rabu. Loyalis Assad dibantu pasukan Rusia terus menggempur kawasan yang menjadi benteng terakhir kaum pemberontak.

Bantuan kemanusiaan yang sempat tertahan oleh pasukan pemerintah dan Rusia kembali mengalir pada Kamis (15/3) menuju Duma, kota terbesar di Ghouta Timur. Komite Palang Merah Internasional (ICRC) mengirimkan 25 truk untuk mengantarkan paket makanan ke kota itu. Paket makanan tersebut diperkirakan hanya cukup untuk memenuhi sebagian kecil kebutuhan warga. Rusia pun menyebut telah mengirim 137 ton paket makanan ke Ghouta Timur.

Duma dan Hamuriyeh adalah dua kota yang menjadi benteng pertahanan utama kaum oposisi di Ghouta Timur. Sebagian wilayah kota Duma masih dikontrol kelompok Jeis al-Islam yang ditaksir mempunyai hingga 15.000 anggota milisi, sedangkan sebagian wilayah Hamuriyeh dikontrol pasukan Suriah.

Hamuriyeh dikontrol oleh tiga faksi kaum pemberontak yang berbeda. Area di sekitar Hamuriyeh dikontrol Faylaq al-Rahman, yang kemarin dibombardir pasukan pemerintah. Seorang dokter mengatakan, korban di Hamuriyeh ada yang dibiarkan tergeletak di jalanan, tanpa bisa ditolong karena bombardir pasukan pemerintah.

Ghouta Timur yang dekat dengan ibu kota digempur pasukan pemerintah. Di kota Afrin di Suriah bagian utara, pasukan Turki terus menggempur kawasan yang didominasi warga Kurdi itu. Turki menganggap mereka bagian dari kaum teroris dan kelompok pemberontak di dalam negeri Turki.

Turki mulai membombardir kawasan Afrin sejak akhir Januari hingga Rabu kemarin. Padahal, warga Kurdi bersama pasukan AS sejak awal terlibat perang melawan pasukan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). Sebelumnya, Turki bergabung dengan Rusia dan Iran membantu pasukan pemerintah Assad merebut kembali daerah yang pernah dikuasai NIIS.

Jutaan warga Suriah kehilangan rumah dan mengungsi ke negara tetangga ataupun negara-negara di Eropa. Mereka yang tidak mengungsi kehilangan akses layanan dasar, seperti kesehatan dan pendidikan. Banyak kekayaan warisan budaya di Suriah yang rusak akibat perang.

Berulang kali penyelesaian damai diupayakan, tetapi berulang kali pula gagal. Presiden Turki, Rusia, dan Iran dijadwalkan bertemu di Istanbul pada 4 April 2018 untuk membahas masa depan Suriah.