Bidvertiser

Selasa, 24 Juli 2018

Eks Napi Korupsi dan Caleg//Belasungkawa untuk GM Sudarta//Tanggapan Bank Mega//Bahasa Berita TV(Surat Pembaca Kompas)


Eks Napi Korupsi dan Caleg

Polemik pencalonan diri bekas narapidana korupsi untuk menjadi anggota badan legislatif masih hangat. Saya menolak bekas narapidana korupsi sebagai calon anggota badan legislatif.

Alasan saya: selama hidupnya setiap manusia menanggung seribu satu macam pengalaman, baik positif maupun negatif. Pengalaman positif membentuk kesan positif; pengalaman negatif membentuk kesan negatif.

Kesan-kesan itu tersimpan seumur hidup dalam alam bawah sadar sang manusia. Karena alam sadar terus bergolak bagaikan air mendidih, maka silih berganti kesan positif dan kesan negatif akan timbul tenggelam dan muncul ke permukaan alam bawah sadar, mencapai alam sadar, selanjutnya akan mengilhami sang manusia berperilaku. Kesan positif dapat mengilhami manusia berperilaku positif dan kesan negatif dapat mengilhami manusia berperilaku negatif (Djorghi, 1925).

Contoh tentang hal itu: tak jarang para bekas narapidana lagi-lagi terlibat dalam kejahatan yang sama atau serupa seperti di masa lampaunya.

Kita berusaha memberantas kejahatan korupsi seperti halnya memberantas penyakit agar lenyap dan tidak muncul lagi. Maka, sudah selayaknya, dalam usaha kita memberantas kejahatan korupsi, para bekas koruptor dilarang mencalonkan diri untuk dipilih dalam pemilu legislatif. Dengan demikian, kejahatan korupsi mereka tidak terulang karena terilhami kesan negatif mereka (korupsi ) di masa lampau.

Kita harus bersikap skeptis terhadap undang-undang yang mengizinkan para eks narapidana kasus korupsi ikut nyaleg apabila kita benar-benar mau memberantas kejahatan korupsi agar tidak menjadi suatu ironi.

Willibrord Dumat UF
Jl Raya Ciburuy, Kp Sukamaju,
Padalarang, Jawa Barat

Belasungkawa untuk GM Sudarta

Kami ikut belasungkawa atas meninggalnya Mas GM Sudarta. Satu-satu teman kami di ASRI Gampingan meninggalkan kami. Namun, kami yang ditinggal harus tetap tegar.

Titip salam untuk Panji Koming dan Pailul. Pesan kami: jaga baik-baik kesehatan, terutama yang bikin gambarnya, sebab tiap Minggu dengan Kompas Minggu karikaturnya selalu saya perhatikan.

Agung Nugroho
Jl Damar X, Pekayon Jaya Raya,
Bekasi Selatan, Jawa Barat

Tanggapan Bank Mega

Sehubungan dengan surat Bapak Kurniawan Rozali, "Teror Penagih Utang Bank", di Kompas edisi 23 April 2018, kami telah menghubungi beliau untuk menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami.

Kami telah memberikan penjelasan terkait keluhannya. Perlu kami informasikan, keluhan terkait sanggahan data selanjutnya akan ditangani pihak kepolisian.

Christiana M Damanik
Sekretaris Perusahaan Bank Mega

Bahasa Berita TV

Apakah bahasa Indonesia tidak lagi menjadi kebanggaan kita?

Dulu, saat TVRI hanya satu-satunya siaran visual, pembaca berita taat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan betul sehingga mereka menjadi contoh bagi pemirsa.

Saya mengamati masih banyak pembaca berita di TV kita saat ini yang tidak berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, apalagi reporter menyampaikan laporan langsung.

Meskipun mereka harus menyampaikan laporan secara cepat, seharusnya mereka tetap menggunakan bahasa Indonesia yang tepat. Pernah seorang reporter TV kita menyajikan laporan dengan tiga kata terakhir yang selalu saya ingat: "… korban masih meninggal."

Kita harus bangga memiliki bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Vita Priyambada
Kompleks Perhubungan,

Jatiwaringin, Jakarta Timur

Kompas, 24 Juli 2018

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar