Prita H. Ghozie

 

Sebagai seorang perencana keuangan, saya percaya betul bahwa memiliki rencana keuangan adalah the only way untuk memperoleh kemerdekaan finansial yang terencana.

Setiap hari Anda pasti memperoleh rezeki, yang jumlahnya tentu bervariasi. Tanpa punya rencana keuangan, rezeki tersebut mungkin saja tidak terkelola dengan optimal, atau bahkan hanya menguap begitu saja. Coba tanyakan kepada diri sendiri:

"Sudah berapa tahunkah saya bekerja?"
"Sudah berapa kekayaan yang saya hasilkan dari bekerja?"

Ada tiga cara seseorang mendapatkan kekayaan dengan cara yang baik. Satu dengan bekerja dan memperoleh penghasilan. Dua mendapatkan warisan meski sayangnya utang pun bisa diwariskan.

Dan, terakhir adalah dengan berinvestasi pada aset yang produktif. Membuat rencana keuangan artinya Anda akan melalui tahapan-tahapan yang terencana dalam mengelola kekayaan.

Prioritas dalam penyusunan rencana keuangan sebaiknya dimulai dengan memenuhi kebutuhan yang wajib terlebih dahulu. Sayangnya, masih banyak orang yang belum terlalu paham bagaimana tahapan yang ideal dalam melakukan perencanaan keuangan.

Jika tidak mengikuti tahapan yang ideal, ada kemungkinan timbul permasalahan di kemudian hari karena terjadinya risiko-risiko keuangan yang tidak dimitigasi sebelumnya. Tahapan dalam perencanaan keuangan sebaiknya dilakukan secara berurutan dan dimulai untuk memenuhi kebutuhan yang pasti datang.

Tahap pertama adalah fokus untuk memenuhi empat tujuan keuangan utama keluarga. Secara umum, saya identifikasi setiap rumah tangga perlu untuk mempersiapkan dana darurat untuk kejadian tak terduga, dana pembelian rumah tinggal, dana untuk pendidikan anak bagi yang memiliki tanggungan, serta dana pensiun untuk pasangan suami dan istri ataupun yang masih lajang.

Cara untuk mencapai empat kebutuhan dasar tersebut adalah dengan menabung dan berinvestasi bulanan dari penghasilan yang diterima.

Panduannya, dana darurat dipersiapkan dengan menabung di tabungan biasa. Sementara tiga kebutuhan lainnya dapat dibantu dengan investasi secara berkala dari penghasilan bulanan. Dana pembelian rumah tinggal biasanya tergolong tujuan jangka menengah antara 2 tahun dan 5 tahun. Calon investor dapat memilih investasi seperti reksa dana pasar uang.

Adapun dana pendidikan anak sangat bergantung pada usia anak menuju jenjang sekolah yang dituju. Prinsipnya, dahulukan kebutuhan untuk pendidikan tinggi karena inflasi biaya pendidikan universitas yang cukup besar.

Berdasarkan pengalaman pribadi, pembayaran uang semester 20 tahun silam ternyata telah naik dari Rp 475.000 menjadi Rp 15 juta pada tahun ajaran 2018 untuk fakultas yang sama.

Berbeda lagi untuk investasi dana pensiun yang sifatnya jangka panjang. Calon investor dapat melakukan alokasi khusus atas aset-aset yang telah dimiliki.

Sebagai contoh, tanah kosong ditujukan untuk dana pensiun, emas yang sudah dikumpulkan ditujukan untuk bertahan, dan seterusnya. Aktivitas ini sebaiknya dicatat agar satu jenis aset tidak dialokasikan untuk semua kebutuhan yang timbul.

Tahap kedua mengumpulkan dana untuk dibelikan aset produktif. Aset produktif memiliki arti bahwa dari aset tersebut rumah tangga akan dapat menikmati penghasilan secara berkala dari hasil investasi. Apabila dana terbatas, pilihan seperti Savings Bond Ritel dari pemerintah serta obligasi dapat diambil oleh calon investor.

Namun, jika penghasilan setahun rumah tangga sudah di atas angka Rp 3 miliar, sangat disarankan untuk mulai membeli aset produktif yang lebih besar seperti properti dan lainnya.

Tahap ketiga menikmati penghasilan pasif dari aset produktif. Saat aset yang dimiliki sudah dapat memberikan hasil secara berkala, maka evaluasi tahapan kehidupan saat ini.

Secara umum, jika calon investor masih dalam usia produktif dan masih bekerja secara aktif, saran saya adalah tidak menggunakan hasil investasi untuk tambahan penghasilan.

Hasil itu sebaiknya digunakan untuk membeli aset investasi lain. Nantinya saat sudah memasuki masa pensiun maka hasil investasi dari aset produktif dapat digunakan untuk memenuhi biaya hidup harian. Pada tahapan ini, secara terminologi, Anda sudah memasuki kemerdekaan finansial.

Berdasarkan penjelasan sebelumnya, sudah sangat jelas bahwa setiap rumah tangga wajib menabung dan berinvestasi untuk memenuhi kebutuhan dasar dahulu.

Fakta yang terjadi adalah banyak masyarakat yang membeli aset investasi tanpa perencanaan terlebih dahulu, bahkan belum punya aset yang dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

Itu sebabnya, saya selalu ajak setiap orang untuk menghitung berapa kebutuhan dana dan berapa setoran investasi yang harus disisihkan dari penghasilan bekerja. Produk yang dipilih untuk setoran investasi tahap 1 memang sebaiknya berupa aset likuid seperti produk reksa dana dan saham.

Perhitungan untuk berbagai kebutuhan ini dapat dilakukan dengan bantuan kalkulator keuangan gratis di sejumlah situs perencanaan keuangan.